InspirasI

Sabtu, 13 September 2014

BERLAYARLAH MENUJU PANTAI HARAPAN

           Anda adalah perahu kokoh yang sanggup menahan beban, terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menentang angin. Kesejatian anda adalah berlayar mengarungi samudra, menembus badai dan menemukan pantai harapan. Sehebat apapun perahu diciptakan tak ada gunanya bila hanya tertambat di dermaga.
        Dermaga adalah masa lalu anda. Tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan anda. Jangan buang percuma seluruh daya kekuatan yang dianugrahkan pada anda. Jangan biarkan masa lalu menambat anda di siti. Lepaskan diri anda dari ketakutan dan penyesalan. Berlayarlah. Bekerjalah.
Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah yang menantang. Di situlah tanda kesejatian teruji.               Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkarya menemukan kebahagiaan.


Kamis, 11 September 2014

DNA MANUSIA MEREKAM SEMUA PERBUATAN MANUSIA SELAMA DIDUNIA

 Bismillahir-Rahmaani r-Rahim ...Salah satu hal yang sangat berperan dalam upaya kita meningkatkan takwa pada Allah SWT adalah mengingat mati dan kehidupan di akhirat. Bahwa semua makhluk tanpa kecuali akan meninggalkan dunia yang sementara ini. Entah nanti, atau besok, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, kita semua pasti akan mati. كل نفس ذائقة الموت (Setiap makhluk hidup pasti akan mati). Dan kita, sebagai umat Islam memang diperintahkan untuk sering-sering ingat mati agar hidup kita menjadi baik. Nabi bersabda: أكثروا ذكر هاذم اللذات (Perbanyaklah mengingat pemutus keenakan duniawi).
        Selanjutnya, berkaitan dengan kehidupan di akhirat, ada dua hal utama yang harus selalu menjadi peringatan bagi kita. Pertama, bahwa hidup di dunia ini teramat sangat sementara, dan hidup di akhirat itu tiada batasnya. Andaikan saja kita dikaruniai umur panjang sampai 100 tahun, maka sebenarnya itu hanyalah sepersepuluh hari akhirat. Sebab 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia.
 Ini didasarkan pada ayat ke-7 surat As-Sajdah yang berarti:
 Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNYA dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.
 Jadi, secara matematis masa 100 tahun di dunia = 2 jam 24 menit (menurut perhitungan akhirat). Lebih detil lagi, 1 jam akhirat = 41,66 tahun, 1 menit = sekitar 255 hari, dan 1 detik = 4,25 hari.
 Kedua, bahwa semua perbuatan yang kita lakukan di dunia terekam oleh tubuh kita. Kita harus tahu bahwa agama kita tidak mengajarkan apa yang sering diungkapkan orang “surgo nunut neroko katut” (ke surga numpang, ke neraka ikut). Karena yang benar adalah, orang masuk surga karena amal baiknya, dan yang masuk neraka karena kesalahannya sendiri. Sehingga ada sebuah ilustrasi (penggambaran) di dalam al-Quran surat al-Anam ayat 94. Seolah-olah ketika nanti di hari Kiamat dan kita berbondong-bondong menuju pengadilan Allah, terpampang sebuah sepanduk besar yang artinya:
 Dan sungguh kalian telah datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kalian pada mulanya. Dan kalian tinggalkan di dunia apa yang telah Kami karuniakan pada kalian. dan Kami tiada melihat bersama kalian pemberi syafa’at yang kalian anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu. Sungguh telah terputus hubungan-hubungan di antara kalian dan lenyaplah apa yang dahulu (di dunia) kalian anggap (sebagai sekutu Allah).
 Kita lahir di dunia dari dua garba ibu sebagai pribadi-pribadi. Tetapi kemudian kita dituntut untuk hidup yang baik. Dan kebaikan kita di dunia ini selalu diukur secara sosial. Perbuatan baik adalah perbuatan baik dalam konteks sosial. Itulah makanya manusia disebut makhluk sosial. Makhluk yang harus selalu memikirkan sesamanya. Seperti dilambangkan dalam ucapan terakhir setiap kali kita salat, yaitu assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh (semoga keselamatan dan keberkahan dari Allah senantiasa tercurah untuk kalian) sambil menengok ke kanan dan kiri. Seakan ini adalah peringatan dari Allah SWT, “Kalau kamu sudah melaksanakan salat untuk mengingatku, maka sekarang buktikan bahwa kamu mempunyai tekad baik untuk memperhatikan sesama makhluk di sekitarmu. Tengoklah kanan-kirimu karena masih banyak yang membutuhkan bantuan.”
 Jadi kita menjadi makhluk sosial di dunia ini. Tapi ketika kita mati nanti, dan memasuki alam kubur, kita menjadi makhluk pribadi kembali. Seluruh perbuatan kita di dunia, baik dan buruk, hanya kita sendiri yang menanggung. Allah telah memperingatkan dalam surat Luqman ayat 33 yang artinya:
 Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia menipu kalian, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kalian.
 Pengadilan Allah sama sekali tidak menerima tebusan. Tebusan (عدل) dalam sistem hukum negara kita tidak dikenal. Makanya orang yang sedang menjalani hukuman di penjara, kalau dia mau keluar untuk sementara dia harus menyuap petugas. Istilahnya menyuap tidak menebus. Tapi di negara Inggris, sistem hukumnya mengakui adanya tebusan, atau dikenal dengan istilahbail. Di akhirat kelak, sama sekali tidak ada tebusan apalagi suap. Semuanya harus berhadapan dengan Allah sendiri-sendiri. Praktek pengadilan Ilahi di hari akhirat kelak telah dijelaskan dengan gamblang dalam surat Yasin ayat 65 yang artinya:
 Pada hari itu Kami bungkam mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka, sedankan kaki-kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia.
 Jadi, badan kita ini akan menjadi saksi. Jika mulut mencoba mengingkari suatu tuduhan dalam pengadilan Allah nanti, maka yang akan membantah adalah tangan kita sendiri, dan kaki kita akan menjadi saksi. Ini adalah peringatan yang sangat kuat yang harus selalu kita renungkan.
 Secara ilmiah kita bisa mengatakan bahwa badan kita ini memang bisa menjadi saksi dari seluruh perbuatan kita. Sebuah teori mengatakan bahwa sebenarnya segala kejadian di alam raya ini tidak ada yang hilang tanpa terekam. Kejadian-kejadian itu terekam di angkasa juga di dalam diri kita sendiri. Sebagai contoh dari proses perekaman ini adalah fungsi DNA (deoxyribonucleic acid) dan gen. DNA dan gen berfungsi sebagai perekam semua bentuk dan karakter/watak kita. DNA terdapat di dalam gen, gen ada di dalam kromosom, dan kromosom terdapat di dalam sel. Dan perlu kita tahu bahwa semua makhluk hidup memiliki sel. Baik DNA, gen, kromosom, dan sel, semuanya adalah benda-benda mikroskopis (yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop). Tetapi justru di dalam DNA itulah terekam seluruh informasi mengenai diri kita. Apakah rambut kita ikal atau lurus, hidung kita pesek atau mancung, watak kita penggembira atau gampang sedih, watak kita supel atau tertutup, semuanya ada di dalam benda-benda yang tak terlihat oleh mata telanjang kita.
 Oleh karenanya, jika al-Quran mengatakan bahwa badan kita menjadi perekam dari seluruh perbuatan kita, adalah suatu hal yang benar adanya. Karena di dalam tubuh kita ini terdapat milyaran DNA dan gen. Dan semuanya itu kelak akan berbicara pada Allah SWT melalui tangan dan kaki kita seperti dilukiskan di dalam surat Yasin ayat 65 tsb.
 Maka dari itu, semua ini harus menjadi peringatan bagi kita. Hidup di dunia hanya satu kali. Setiap kejadian yang kita alami hanya terjadi sekali. Bahkan setiap detik, menit, dan jam, tidak mungkin terulang lagi. Maka hendaknya kita terus berupaya meningkatkan kualitas hidup kita secara serius. Demikian semoga bermanfaat.
Mengajar dan Belajar

Mengajar merupakan hal yang sangat umum dilakukan, dapat dilaksanakan di rumah, lingkungan, sekolah, kantor dan dimana saja. Anggapan yang menyatakan belajar hanya di sekolah adalah salah besar.
Di rumah atau keluarga merupakan tempat mengajar dan belajar paling dasar dan paling menyenangkan, dari sejak lahir bunda, ayah dan bayi semuanya belajar, bunda belajar menjadi ibu yang baik dan menjadi pengajar bayi bagaimana menyusui, makan, berdoa, berbicara, berjalan, berlari dan seterusnya, keduanya belajar dan mengajar bersama, bayinyapun mengajarkan bundanya untuk bagaimana bersabar, teliti dan perhatian dan banyak lagi yang lainnya sampai seterusnya keduanya akan terus belajar dan mengajar. Ayah belajar memenuhi kebutuhan keluarganya dan mengajarkan kepada bayinya bagaimana menghadapi hidup yang sulit dengan menyenangkan, Ayah dan bunda saling mengajar dan belajar bagaimana berbagi tugas dan saling melindungi, saling menyayangi, indah sekali dunia bila keluarga menjadi tempat belajar dan mengajar yang tidak ada hentinya sehingga tercipta keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah, amin.
 Di lingkungan rumah semua belajar dan mengajar tentang bersosialisasi, bagaimana menghadapi sikap dan perilaku tetangga, mengajarkan bagaimana menjadi keluarga yang terbaik, belajar bagaimana membina keluarga dengan baik demikian seterusnya tanpa henti.
 Di kantor, di pasar, di tempat keja ataupun beraktifitas apa saja kita belajar dan mengajar, belajar untuk mengetahui hal yang belum diketahui, mengajarkan apa yang kita ketahui dan terus berlanjut serta akan menyenangkan bila semua dilakukan dengan sepenuh hati, tidak pelit dan kikir dengan ilmu dan kemampuan yang dimiliki, saya banyak sekali teman yang mau berbagi ilmu walaupun tanpa diminta mereka mengajarkan tentang hal yang belum kita tahu dan merekapun belajar dari apa yang kita tahu.
 Sekolah sebagai tempat yang didelegasikan sebagai tempat belajar dan mengajar oleh masyarakat dan negara merupakan tempat yang paling dirasakan sebagai tempat belajar dan mengajar, siswa sebagai pelajar dan guru sebagai pengajar, namun dalam kenyataannya kita semua belajar dan mengajar, siswa mempelajari apa yang diarahkan gurunya dan mengajarkan kepada guru bagaimana menghadapi berbagai sifat dan karakter unik dari tiap siswa, menangani siswa bermasalah, menghadapi siswa yang berbakat, tidak menjadikan siswa sebagai obyek yang dianggap bodoh tidak tahu apa-apa, padahal dalam beberapa hal guru harus belajar dari siswanya, secara sederhana ada guru mungkin belajar menggunakan media social twitter dan facebook dari siswa atau termotivasi siswanya, belajar bagaimana membuat kerajinan tangan yang dibuat siswa, bagaimana melakukan gerakan yang sulit dalam olahraga dan banyak hal yang dipelajari dari berbagai macam siswa.
Pelaksanaan belajar dan mengajar yang menyenangkan dapat terwujud bila kita melakukan hal tersebut sepenuh hati, jangan pernah berfikir ‘berapa saya di bayar’, ‘itu bukan tugas saya’, anak tidak bisa bukan urusan saya’ dan banyak kata kata negatif lain yang sering saya dengar dari rekan-rekan guru. Mempelajari guru-guru yang berhasil menjadi idola muridnya adalah karena mereka mengajar dengan sepenuh hati, menyenangkan untuk dirinya dan iuntuk siswanya, gunakan metode yang beraneka ragam, gunakan metode ciptaan kita sendiri, sesuaikan dengan karakter dan situasi siswa, merekapun selalu mempelajari sifat dan karakter gurunya sehingga merekapun akan terbiasa dan menerima bagaimana cara kita mengajar.
 Satu contoh kasus sering kali ada guru yang bila tidak masuk sekolah dan meninggalkan tugas sedangkan gurunya kurang menyenangkan karena hanya mengajar dirinya sendiri, maka dengan gembira mereka akan berkata ‘tidak masuk gurunya ya, horeee, kita bebas’, namun perhatikan bila guru yang disenangi dan mengajar dengan setulus hati mereka akan bersedih dan terdengar,’Yah bapak/ibu …. tidak masuk, nggak asyik deh,’ sambil menanyakan keadaan guru tersebut.
 Semua ini datang dari kita sebagai pengajar dan pembelajar, bila kita dengar sendiri kata-kata siswa tersebut barangkali bukan marah atau gembira yang harus kita lakukan, melainkan koreksi diri, berdiskusi dengan teman sejawat, dengan guru senior yang menjadi idola murid. Membuat Status diri dan keadaan lingkungan sekolah di media social baik Face book, twitter atau yang lain memang kurang  baik karena akan menjadi bahan perbincangan orang. Persoalan finansial bagi guru memang  penting namun janganlah itu melalaikan kewajiban terhadap siswanya.
Terima kasih para Guru TK, SD,SLTP,SLTA dan Para Dosen yang telah mengabdi dengan mengajar para pewaris bangsa ini.Semoga tercipta generasi yang tangguh untuk masa depan.


Rabu, 10 September 2014

SANDAL KULIT SANG RAJA

           Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, “Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya.”
            Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.
       Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.” Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut “Sandal“.

Renungan:
         Ada pelajaran yang berharga dari cerita itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala, kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri,bukan dengan jalan mengubah dunia itu atau bahkan malah menyesali takdir yg telah terjadi dalam kehidupannya.
         Karena kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam pikiran kita, kadang hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, kita artikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat di sana, sebab, seringkali dalam pandangan kita, dunia, adalah bayangan diri kita sendiri.
          Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit, atau, melapisi hati kita dengan kulit pelapis, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?


Senin, 25 Agustus 2014

Ketika Gendis Harus Memilih

Hamparan sawah dengan bulir-bulir padi yang hampir menguning di bawah kaki Merapi merupakan pemandangan yang sangat indah bak gelaran permadani. Ditambah lagi percikan suara air di selokan bening yang melingkari seluruh pematang bagai alunan nada merdu. Di kejauhan tampak pula para petani berlomba dengan burung-burung pipit yang hendak memakan butiran padi yang hampir masak.
Pemandangan mengelokkan disetiap musim panen tiba sepert ini membuat Gendis tak bosan-bosannya duduk di pinggir pematang. Angin sepoi-sepoi seakan menerbangkan jilbab yang dikenakan olehnya. Desa Gendis memang indah, di bawah kaki gunung Merapi yang acap kali menyemburkan laharnya justru membuat tanah di daerah itu sangat subur. Ibaratnya apapun yang ditanam pasti tumbuh dengan suburnya


"Hai ...Gendis kok nglamun...", tiba-tiba Gendis dikagetkan dengan suara seseorang.

"Oalah ...mbak Sri kapan datangnya..." setengah terpekik
"Sudah dua hari yang lalu"
"Kok ndak kasih kabar dulu "
"Iya kebetulan aku dapat cuti satu minggu dari tempat kerja nDis...ya sudah pulang kampung saja sudah kangen sama semuanya"
"Mbak Sri, pangling aku.."
Gendis mengamati dengan teliti penampilan Sri, kakak kelasn di SMA yang telah meninggalkan desanya dan bekerja di Jakarta.
"Kok ndak pakai jilbab lagi toh mbak.."
"Wah panas nDis kalau pakai kerudung segala, lagipula aku nanti dibilang ndeso gitu lho"
"Ohh gitu tho mbak...eh..enak ndak si kerja di Jakarta itu"
"Ya..ada enaknya ya ada ndak enaknya"
"Di sana kerja apa toh Mbak"
"Kerja di pabrik"
"Jadi apa ?"
Tiba-tiba saja Sri tergelak
"Aduh Gendis...katanya kamu ini pinter, NEM tertinggi se kecamatan kok begini ya ditanyakan"

"Lho memang kenapa mbak"
Kembali Sri tertawa
"Kamu ini lucu sekali Ndis...lulusan SMA, paling banter ya jadi buruh...apa mau jadi Boss..ha...ha..ha... Di Jakarta itu wong pinter buanyaak nDis, cari kerja susah sekali"
"Ooh begitu toh mbak"
"Lha kamu piye kan sudah aku tawarin ikut kerja .kebetulan perusahaan sedang cari pegawai baru "
"Endak tahu yaa...bingung mbak.."
"Lho bukannya kamu sekarang sudah lulus SMA nya toh...sudah ndak sekolah lagi..sudah ikut aku wae ke Jakarta"
"Iya tapi Ibuku sepertinya kok ndak seberapa seneng mbak..Ibuku masih mengharapkan aku untuk ngelanjutkan sekolah lagi..soalnya aku juga ikut tes UMPTN..Ibu berharap sekali aku keterima..
Mata Gendis menerawang jauh. Ibunya sangat menharapkan ia dapat melanjutkan sekolah lagi. Tapi Gendis sadar bahwa keluarganya bukan tergolong mampu. Kadang untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pas-an. Apalagi setelah kematian bapaknya tujuh tahun yang lalu, otomatis tulang punggung perekonomian keluarga di tangan ibunya. Ketika meninggal, Bapak Gendis juga tidak mewariskan banyak. Sekarang ibunya hanya mendapatkan gaji pensiunan bapaknya sebagai bekas guru SD yang tidak seberapa. Ditambah ibunya harus membanting tulang berjualan telur hasil dari ternak ayam yang ada di rumah yang juga tidak terlalu banyak
Kalau mengingat itu rasanya Gendis sudah tidak tega membiarkan ibunya harus bekerja ekstra untuk kebutuhan dirinya dan adik-adiknya. Kebetulan Gendis masih mempunya dua adik laki-laki Gendis ingin sekali bekerja untuk membantu beban ibu. Apalagi di jaman sekarang semua kebutuhan harganya melangit.
"Hey nDis melamun lagi...bagaimana toh kamu ini"
"Iya mbak..bagaimana ya..."
"Lho ditanya kok mbales nanya "
"Nantilah mbak jawabannya setelah pengumuman UMPTN"
"Kapan pengumumannya nDis"
"Besok Mbak"
"Besok..wah kalau diterima nanti traktir aku yaa"
Gendis tersenyum
"Nah sekarang aku traktir kamu dulu makan mendoan di warung Yu Tarsih"
"Alhamdulillah...ceritanya bagi-bagi rejeki ya.."
"Endak lah...aku ingin saja ...pergi yook"

**********
"Amin..."guman Gendi lirih mengakhiri doa-doa panjang setelah shalat Maghrib malam itu.
Tak terasa olehnya tampak ibu yang mengimami shalat sedari tadi mengamati putri sulungnya.
"Sudah kamu doakan Paknemu di kubur Nduk.."
"Sampun Bu..Gendis selalu doakan Pakne dan Bune semuanya"
"Alhamdulillah...ya memang itu yang diperlukan Paknemu sekarang di kubur sana ndak ada yang lain...doa dari anak-anaknya....dan jangan lupa selalu doakan ..."
"Inggih Bu..."
Sesaat Gendis mengamati ibunya. Tersadar olehnya bahwa ibu sekarang tampak lebih tua dari umurnya. Raut wajah ibu sudah dipenuhi oleh kerut-kerut yang telah menyimpan banyaknya peristiwa, pengalaman dan perjuangan yang mesti dihadapi. Tangan ibu yang seharusnya putih bersih terlihat legam terbakar matahari karena harus setiap hari berjualan di emper pasar menawarkan telur.
Urat-urat tangan tampak menonjol menunjukkan betapa kerasnya kehidupan yang dijalankan ibunya untuk meghidupi keluarganya, untuk anak-anaknya. Tetapi dibalik itu semua, ibu tidak pernah mengeluh sedikit pun. Ibu selalu tawakal dengan apa yang harus dihadapinya. Ibu tidak pernah marah dengan guratan nasib yang menimpanya.Tak terasa air mata Gendis menetes.
"Ada apa toh Nduk kok tiba-tiba nangis "
"Ndak apa-apa koh Bu...Ehmmm..ibu sayah ya...harus setiap hari kerja begitu"
"Endak ..ibu sudah biasa kan seperti ini Nduk...semua ini demi kamu dan adik-adikmu. Biar kalian semua dapat terpenuhi kebutuhannya..."
"Gendis sedih bu..ndak bisa mbantu malah sering nyusahake ibu....."
"Sudah kamu ndak usah kawatir..kamu semua jadi anak-anak baik ibu senang sekali...itu kebahagiaan tersendiri buat ibu"
"Inggih Bu"
Gendis melepas mukena dan hendak beranjak menuju dapur
"Ndis tadi siang kemana saja ibu cari-cari..."
"Oh ya bu..tadi Gendis ketemu sama mbak Sri"
"Sri yang mana to Nduk"
"Itu lho Bu..mbak Sri anak Dusun Atas yang sekarang kerja di Jakarta.."
"Ohhh itu ..ya..ya..ibu tahu...yang sering kirim-kiriman surat sama kamu "
"Mbak Sri nawarin Gendis kerja di Jakarta Bu.."
"Jakarta...kerja"
Wajah ibu berubah, ketidak sukaan nampak di raut wajah ibu.
"Iya Bu..."
"Kenapa sih kamu selalu mikir pingin kerja, apa uang saku yang ibu berikan kurang"
"Endak Bu sama sekali ndak ..Gendis hanya mikir ingin mbantu ibu, Gendis ingin meringankan tugas ibu..itu saja.."
"Sudah ibu bilang berkali-kali nduk..ndak usah dipikir..ibu ingin kamu ngelanjutke sekolah..pengumuman UMPTN besok toh nDuk..."
Ibu selalu ingat dan menantikan
"Inggih Bu "
"Mudah-mudahan dapat diterima ya Nduk"
"Peluangnya berat Bu.."
"Jangan bilang begitu Nduk kalau Gusti Allah ngresakake ya diterima...Berdoa minta yang terbaik buat kita semua "
Sesaat kemudian ibu melepas mukena dan memakai kerudung di kepalanya
"Badhe tindak pundi Bu..dalu-dalu begini"
Sri keheranan, tidak biasanya ibu pergi malam-malam hari.
"Ke Warungnya pak Atmo di Sumber Rejo"
"Ada apa"
"Pak Atmo pesan telur ..lumayan banyak lho Nduk.."
"Gendis antar ya Bu"
Gendis segera memakai jilbab.
"Ndak usah..ibu diantar Tono dan Yanto adikmu"
"Lho anaknya ndak ada kan Bu"
"Ibu janjian di Langgar..mereka nunggu di sana"
"OOOhh.."
Yanto dan Tono, kedua adik Sri memang selalu rajin shalat berjamaah di Langgar. Kalau Maghrib dan Isya` hanya Gendis dan Ibu yang shalat berjamaah di rumah.
"Tolong goreng tempe dan menghangatkan nasi di dandang buat makan malam...oh ya..tolong ambilkan oblik Nduk "
Walaupun Listrik sudah masuk ke desanya, namun jalan-jalan di desanya serasa tak tersentuh oleh listrik. Jadilah kalau malam tiba keadaan tetap gelap gulita. Bila warga desa keluar rumah harus membawa penerangan seperti senter, oblik ataupun obor.
"Ini bu..hati -hati ya..bu..."
"Assalamualakium"
"Waalaikumsalam"
Gendis melepas kepergian ibu. Tampak tubuh ibu yang membawa gendongan di punggungnya kian lama hilang di telan kegelapan malam.

*****************
Pagi itu Gendis telah bangun dan seperti biasanya membantu ibu di dapur.
"Yanto dan Tono kemana saja Bu kok ndak ada"
"Tadi habis Subuh pamitnya pergi gitu..ndak tahu kemana .. "
Dari kejauhan terlihat Yanto dan Tono berboncengan sepeda menuju rumah. Tampak Tono terengah-engah sekali mengayuh pedal sepeda sekencang-kencangnya.

"Ibu..Mbak Gendis sini..lihat apa yang aku bawa" teriak Tono
Segera saja Ibu dan Gendis yang ada di dapur menghambur keluar mendengar ribut-ribut di depan.
"Ini mbak aku tadi beli Koran yang ada pengumuman UMPTN ...mbak..mana nomermu tak carikan sini"
Segera saja Gendis menyerahkan secarik kertas pendaftaran UMPTN
Yanto, Tono dan Ibu tentu saja, tampak antusias sekali mencari nama Gendis diantara deretan nama yang berhasil lolos di UMPTN.
"Nah..Ini dia..Ada.Mbak..Ada.." Teriak Tono
"Mana-mana" seru Gendis dan ibu bersamaan.
"Ini dia Gendis Sugiwati diterima di ..sebentar..kodenya..Subhanalloh mbak..di Fakultas Kedokteran UGM", Yanto mengeja nama kakaknya
"Wuahh..huebbat mbak...selamat yaa..seneng Tono"
"Alhamdulillah NDuk kamu keterima...kamu bisa nggelanjutkan sekolah lagi yaa"
Mata ibu terlihat sedikit berkaca-kaca.
Tapi gendis sendiri tampaknya tidak terlalu senang dengan "kemenangannya" ini. Dia hanya menenggapi dengann biasa-biasa saja.
Rupanya ibu mengamati yang terjadi di dalam diri Gendis.
"Nduk..kamu ndak seneng ya..."
"Alhamdulillah bu Gendis senang....tapi"
"Tapi apa lagi..."
"Gendis bingung Bu...mau melanjutkan atau tidak..."
Mata Gendis menerawang
"Biaya kuliah mahal Bu...kita ndak sanggup membayarnya..lagipula Gendis ndak tega kalau terus-menerus membebankan ibu"
Tiba-tiba ibu menghilang menuju kamar, sekejap kemudian keluar lagi sambil membawa kotak kecil dan menyerahkan pada Gendis.
"Bukalah" kata Ibu
Gendis membuka perlahan-lahan kotak kecil. Dua buah kalung emas dan 2 cincin emas
"Juallah..Nduk buat bayar uang sekolah...kalau ada sisanya simpanlah buat keperluan sekolah.....Besok minta antar sama paklikmu untuk ngantar jual ke kota"
"Jangan Bu..perhiasan ini nilainya amat berharga sekali bagi ibu"
Gendis tahu sekali perhiasan ini amat berharga nilainya dan harganya mahal sekali merupakan peninggalan Eyang putrinya dan ada cincin kawin dari almarhum bapa
"Ndak usah terlalu dipikir..ibu memang sudah mempersiapkan buat kamu, lagipula ibu juga ndak seneng pakai perhiasan, kalau dijual buat kebutuhanmu malah lebih berguna, disimpan terus nanti mubadzir..."
"Ibu..tanggungan ibu bukan hanya Gendis saja, masih ada Yanto dan Tono..."
Gendis menghentikan pembicaraannya sesaat dan melirik ke arah ke dua adiknya.
"Tono dan Yanto harus sekolah tinggi Bu, mereka laki-laki lebih berhak daripada Gendis....Gendis rela mengalah ndak sekolah asal Tono dan Yanto yang sekolah..."
Ibu menarik nafas dalam mendengar penuturan putri sulungnya
"Gendis..semua anak-anak Ibu sebisa mungkin harus sekolah...ndak yang laki dan perempuan. Anggapanmu itu salah kalau wong wadon ndak perlu sekolah tinggi itu..Ndak ada larangannya kan..."
"iyya Mbak...lagipula kesempatan ada di depan mata jangan disia-siakan" ujar Tono
"Yang mantep gitu lho mbak .. diniatkan ibadah ..nuntut ilmu.... biar ibu seneng dan kita ndak jadi wong yang dibuat bodho terus" ujar Yanto menimpali pula
"Insya Alloh kalau ada kesempatan Yanto dan Tono juga ingin sekolah tinggi juga...ya kan Bu.."
"Jarak Jogya sama desa kita kan ndak terlalu jauh, lagipula Mbak Gendis bisa tinggal sama Bude di sana nanti" kata Tono
Gendis memandang satu persatu wajah adiknya.Walau Tono kelas 1 SMA dan Yanto kelas 2 SMP tetapi mereka tampak lebih dewasa dari usianya.
"Ibu sendiri juga sedah memikirkan pula buat adik-adikmua Ndis..Jangan terlalu khawatir dengan rezeki... Gusti Allah itu Maha Sugih ndak akan membiarkan hambanya kelaparan. Apalagi niatnya ibu ini ikhlas kok...Insya Alloh nanti rejeki juga akan datang"
"Oalah Bu..matur nuwun..."
Gendis menangis dan memeluk ibunya.
Sesaat kemudian ibu berdiri dan tampak bersiap akan pergi.
"Mau kemana lagi Bu..pagi-pagi kan belum waktunya ke pasar "
Ditanya begitu oleh Gendis ibu tersenyum simpul.
"Dengar ya Nduk..sekarang Pak Atmo yang punya toko di Sumber Rejo minta agar ibu nyetor telur ayam setiap dua hari sekali 10 kilo..katanya telur-telur ayam kita kwalitasnya bagus...terus tokonya pak Cipto di Sumowono juga minta disetor telur ayam kita"
"kok ndak bilang-bilang Bu.... mau buat kejutan ya..."
"Ya..ndak juga..."
"Jadi ibu sekarang ndak jualan lagi di pasar"
"Di pasar ya tetap jualan..artinya kita punya penghasilan tambahan, nanti siang ibu mau ke kota mau beli anak-anak ayam lagi..Nduk...biar hasil telurnya tambah banyak"
"Alhamdulillah ya Bu "
"Makanya seperti Ibu bilang tadi Gusti Allah itu Maha Kaya, membagikan rejekiNya...Sudah sana tolong ibu masukkan telur -telur di keranjang ...Lha Tono dan Yanto kamu ndak pada mangkat sekolah "
"Masya Allah Bu..sudah jam setengah tujuh" Yanti dan Tono bersamaan.
Keduanya langsung lari dan berebutan masuk ke kamar mandi.
Ibu dan Gendis hanya tertawa geli melihat keduanya.

****owari****
Daftar istilah :
nduk = panggilan untuk anak perempuan di Jawa
piye = bagaimana
pangling = kaget, heran, takjub
mendoan = masakan khas Jawa terbuat dari tempe dan tepung
sampun = sudah
inggih = Iya
sayah = Capek
ngresakake = berkehendak
Badhe tindak pundi Bu..dalu-dalu begini = Mau kemana bu..malam-malam begini
Oblik = lampu minyak kecil
Sugih = kaya

Sabtu, 16 Agustus 2014

Selasa, 12 Agustus 2014

HAKIKAT  KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM


     Seorang muslim tentunya telah mengetahui bahwa hidupnya adalah ujian. Ujian dari Allah ta’ala agar beribadah dan taat kepada-Nya. Bersama ujian tersebut, Allah ‘azza wa jalla senantiasa memberikan ni’mat yang sangat banyak kepadanya.
Ni’mat yang banyak itu ada yang diketahui dan atau disadari dan ada yang tidak. Ni’mat terbesar di dunia adalah ni’mat mengenal Allah ta’ala, dan dekat dengan-Nya. Seorang yang telah mengenal Allah dan dekat dengan-Nya akan merasakan ketenteraman dan kebahagiaan, bagaimanapun keadaan dunia yang menimpanya.
   Orang yang belum memahami tentu menganggap bahwa kebahagiaan yang dituju di dunia adalah lengkapnya fasilitas duniawi yang dapat ia nikmati. Tentu berbagai fasilitas dan perhiasan duniawi memang dapat membuat hidup jadi lebih mudah dan menyenangkan, akan tetapi dapatkah dia benar-benar meraihnya, atau dapatkah semua orang meraihnya?
   Banyak orang berusaha mencapainya, jatuh bangun terus mengejar dunia, banyak orang sampai mati pun tidak mampu mencapainya, banyak juga yang mencapainya namun tidak dapat meni’matinya. Banyak orang bertarung dan saling menjatuhkan, menghalanginya, iri, hasad, menginginkan kehancurannya dan merebut dari nya. Banyak orang stres, gila bahkan bunuh diri karenanya.
Adapun ni’mat mengenal Allah, maka siapapun dapat mencapainya jika berniat dengan ikhlash dan berjuang dengan sungguh-sungguh. Dan jika dia telah mendapatkannya, maka tidak ada yang dapat merebut darinya.
    Bagaimana cara mendapatkan ni’mat tersebut ? Manusia memiliki fitrah / naluri alami yang mengantarkan pada keinginan mengenal Tuhannya, tetapi manusia membutuhkan petunjuk dari Allah ta’ala agar dapat mengenal-Nya dengan benar. Maka Allah memberikan pesan-Nya kepada manusia melalui Rosul-Nya.
Seseorang haruslah berusaha keras untuk mendapatkan petunjuk itu, yaitu dengan cara belajar / menuntut ilmu agar dapat memperoleh pesan-pesan yang telah disampaikan oleh Rosul berupa Al-Quran dan As-Sunnah. Ia juga harus memahaminya dengan pemahaman yang benar.
      Maka jika seseorang telah melakukannya dengan benar, ia akan memperoleh ni’mat itu. Tentu ia tidak akan memperolehnya sekaligus tetapi secara bertahap sesuai kualitas keikhlasan dan usahanya juga tergantung Kehendak Allah berdasarkan Hikmah-Nya.
     Bila seseorang telah mendapatkan ni’mat tertinggi di dunia tersebut dan terus berusaha menjaga dan menyempurnakannya maka ia akan mendapatkan ni’mat yang tertinggi di akhirat yaitu ketika ia bertemu dan melihat Allah di surga-Nya dengan Ridho dan Rahmat Allah.
    Maka hidup di dunia adalah perjalanan menuju pertemuan dengan Allah di akhirat. Dan Allah ta’ala memberikan petunjuk di dunia agar manusia dapat mengenal-Nya, dekat dengan-Nya dan tidak tersesat. Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang ditolong oleh Allah sehingga selamat sampai tujuan.