InspirasI

Rabu, 20 Juni 2018

WANITA YANG KEMATIANNYA DISAMBUT PARA MALAIKAT

Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.
Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan.
          Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.
Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.
“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”
Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.
Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. Beliau syahid…”
Nusaibah tertunduk sebentar,
“Inna lillah…..” gumamnya,
“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,
“Amar, kaulihat Ibu menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”
Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.
“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. *“Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.
Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”
“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?..”
Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”
Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”
Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. *“Kau tidak takut, nak?..”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.
Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya.
“Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya.
“Tapi engkau wanita, ya Ibu….”
Nusaibah tersinggung, *“Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”*
Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.
Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.
“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.
Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.
Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.
Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.
Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.
Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.
Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.
Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”
Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”
“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”
*“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”*
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.
Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.
Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,
“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”
Subhanallah..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Tanpa pejuang sejati seperti dia, mustahil agama Islam bisa sampai dengan damai kepada kita yang hidup di jaman sekarang.
Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..
Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam ?
Kisah penuh inspiratif ini seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, agar tidak cengeng melepas anak -anak yang sedang berjuang. Kalo ingin anak menjadi kuat, maka kita harus menjadi ibu yang kuat terlebih dahulu.
Wallahu'alam...

Rabu, 13 Juni 2018

"Jangan Gampang Membangun Prasangka"

Sudah menjadi kebiasaan setiap ramadhan para  orang tua, kakek-nenek, paman dan bibi menyiapkan uang recehan baru untuk dibagikan kepada anak, cucu, ponakan dan juga tetangga.
Tanpa diminta pun dihari raya idul fitri, para orang tua akan segera  memberikan hadiah berupa uang yg besarnya hanya cukup buat beli es kepel kepada anak-anak, sebagai wujud kegembiraan menyambut hari raya
Angpau itu terkadang bentuk apresiasi kepada anak atau cucu yang masih kecil, dapat menjalankan puasa sampai tuntas, sehinggal layak diberi hadiah berupa uang.
Jika rejeki berlebih para orang tua rela menukarkan banyak uang dengan uang baru agar kesan memberi menjadi istimewa, inilah tradisi yang sudah melekat puluhan tahun.
Jadi yang harus dipahami, tradisi bagi-bagi uang di hari raya itu adalah semangat memberi dari orang tua ke anak-anak bukan sebaliknya anak-anak meminta seperti pengemis kepada yang lebih tua.
Sangatlah lebay jika tiba-tiba  tradisi bagi uang itu   dikatakan sebagai bentuk mengajarkan kepada anak mental pengemis, sebuah tulisan di FB sedang viral, judulnya sangat bombatis JANGAN AJARI ANAKMU JADI PENGEMIS DI HARI IED FITRI.
Penulis membangun narasi di awal tulisan tanpa data valid,  seakan menuduh para orang tua banyak bermental pengemis :
"Liat tuh Om datang. Salim sana biar dapat uang"
"Ayo kita ke rumah teman ayah. Dia orang kaya, kalo kesana pasti dikasih"
Saya rasa tidak ada orang tua yang seperti itu, mengajarkan anak menjadi mental pengemis di hari raya,  terlebih bagi-bagi uang itu hanya terjadi pada lingkungan keluarga dekat, hanya terjadi setahun sekali (ingat yang dibahas di sini dalam konteks hari raya saja ya, bukan diluar hari raya..!!!)
Imajinasi penulis saja yang kebangatan liar, hingga sampai hati menulis seperti ini, di ujung tulisan, penulis membuat kesimpulan ngawur seperti ini
"Sungguh malang nasibmu, nak.
Jika yang orang tuamu ajarkan adalah mental orang yang lemah"
"Mental peminta-minta yang justru sebenarnya dalam islam sangat dilarang."
"Tinggikan derajatmu dengan tidak mengajarkan  si kecil meminta pada nenek, kakek, om, tante, paman, uwa, dll, dsb, dst di hari nan suci.
Wallahu a'lam"
What??? "anak-anak  diajarkan orang tuannya meminta-minta di hari fitri? Ngawur.
Cobalah berpikir dari cara  berbeda, para orang tua di hari fitri sedang memberi contoh semangat berbagi kepada anak-anak juga kepada tetangga. Sehingga si anak bisa menauladani semangat berbagi dari orang tuanya.
Semangat berbagi itu dilakukan di saat silaturahmi kumpul keluarga, sesuatu yang sulit di lakukan selain hari raya, dalam suasana gembira.
Coba rubah sudut pandang anda menjadi positif terhadap tradisi itu, manakala anak anda di beri uang oleh keluarga bukannya ditolak, karena kurang baik menolak pemberian orang terlebih dari keluarga, tetap diterima seraya kita bilang ke anak.
"Nak ucapkan terima kasih ya, kelak kalau sudah dewasa nanti kamu harus mencontoh bapak/kakek/nenek mau berbagi rejeki kepada orang lain".
Sekali lagi, tidak ada orang tua yang mengajarkan anaknya menjadi mental pengemis, terlebih di hari fitri, ada memang anak-anak dan juga orang tua yang sengaja datang ke rumah tetangga yang mampu, untuk silaturahmi sekedar menikmati hidangan istimewa karena di rumahnya mungkin tidak ada, lalu tuan rumah menyambut dengan ceria dan membagikan uang.
Nah itu bukan mental pengemis itu hikmah ramadhan menjadi insan pemberi dan anak-anak yang kurang mampu ingin ikut merayakan kegembiraan bersama orang yang mampu, jangan di generalisir mereka bermental pengemis.
Bagi-bagi uang di hari fitri tidak akan mengakibatkan anak-anak menjadi pengemis atau bermental pengemis, kalaupun anda pernah mendengar, melihat bahkan mengalami sendiri disuruh atau diajarkan melakukan minta uang di hari lebaran oleh orang tua anda diwaktu kecil, kepada kakek-nenek-paman-bibi saya rasa itu hanya sekedar ungkapan kegembiraan, ditengah jalinan silaturahmi keluarga, diungkapkan dengan kalimat guyon bukan serius seperti layaknya pengemis meminta-minta dengan menadahkan tangan.
Toh faktanya anda yang barangkali  pernah disuruh meminta uang di hari fitri, setelah dewasa tidak ada yang berfrofesi menjadi pengemis, bukan ajaran mental pengemisnya yang melekat, justru sebaliknya manakala anda sudah bekerja, sudah memiliki penghasilan sendiri, turut melestarikan tradisi ini, dengan menyediakan rejeki membagi angpau kepada para keponakan anda.
Mari rayakan idul fitri dengan mengapresiasi tradisi yang baik, jauhkan prasangka, janganlah gampang sekali membangun narasi dengan sudut pandang pribadi yang ujungnya membuat kesimpulan salah, ngawur dan menimbulkan ketersinggungan bagi yang menjalankan tradisi. (Copas).


Sabtu, 09 Juni 2018



BIDADARI DI BATAS GAZA

Warna merah menyambut mereka.  Merah darah yang tercecer dari depan UGD, ruang triage hingga ruang tindakan P1,P2 dan P3. Bau anyir menyertai kemanapun mereka melangkah. Belum pernah Kirey melihat darah yang tercecer begitu masif seperti ini di Indonesia. Tampak beberapa tenaga medis berlalu lalang dengan sigap menangani pasien. Dokter Fahri bertanya kepada salah seorang perawat yang bertugas. Mereka berbincang sejenak. Dokter Fahri lalu mengangguk, tampak paham dengan penjelasan perawat tersebut.
Dokter Fahri memberi instruksi kepada mereka untuk mengikutinya ke arah belakang UGD. Dia mengatakan rombongan tim medis dari negara lain sudah tiba lebih dahulu dan menunggu mereka di perpustakaan rumah sakit.
Mereka lalu bergegas.  Kirey melewati beberapa bilik tindakan. Dia melihat begitu banyak pasien yang sedang dilayani. Hampir semua bed terisi.  Beberapa keluarga pasien yang mendampingi tampak panik dan menangis. Sisanya seperti memandang kosong di kejauhan. Seperti ada yang hilang dari manik matanya. Tak ada cahaya harapan.
"Ayo, Rei, kita sudah hampir tertinggal!" Ucapan dokter Arni menyadarkan Kirey. Rupanya dia tertinggal cukup jauh dari rombongan di depan. Kirey dan dokter Arni mempercepat langkah mereka menuju perpustakaan Rumah Sakit.
***
Ruangan itu cukup lega. Di bagian dindingnya tampak beberapa rak yang berisi buku tebal yang tersusun rapi. Di tengah ruangan terdapat meja yang cukup besar. Disitu tampak beberapa orang yang duduk pada kursi panjang yang berhadapan dengan meja tersebut.
Salah seorang lelaki yang sudah cukup berumur dengan rambut keperakan segera berdiri menyambut mereka. Senyumnya yang hangat terkembang.
"Welcome to Gaza! Selamat datang di Gaza! Saya harap perjalanan anda tadi lancar tanpa hambatan," ucapnya dengan bahasa Inggris dengan aksen british. Tangannya terulur menyalami dokter Fahri, sang ketua rombongan.
"Hallo dokter Mark. We meet again. Nice to meet you," jawab dokter Fahri dengan senyum terkembang.
Dokter Fahri lalu memperkenalkan lelaki berambut keperakan itu. Beliau adalah dokter ahli bedah TKV (BedahJantung dan Dada) yang terkenal se antero Eropa. Dokter Mark menimpali dengan mengatakan bahwa dokter Fahri terlalu berlebihan. Senyum tulus dan sederhana terkembang dibibirnya.
Dokter Mark kemudian memperkenalkan anggota tim yang terlebih dahulu tiba. Ada dua orang lelaki dan dua wanita.  Lelaki pertama yang diperkenalkan berambut pirang. Usianya sekitar akhir tigapuluhan.  Dokter Mark memperkenalkannya sebagai salah satu dokter bedah syaraf yang terkenal di London. Namanya Adam Stevenson. Dia tampak tersenyum​ lebar kepada Kirey. Kirey membalas singkat hanya demi tatakrama.
Pria yang satu lagi berkepala botak dengan usia sekitar empatpuluh tahunan. Dokter Mark memperkenalkannya sebagai dokter Roy, seorang Psikiater.
Sedangkan dua wanita berikutnya adalah dokter umum atau GP, sama seperti Kirey. Salah seorangnya berhijab hitam dan bermata biru bernama July. Sedangkan seorang lagi bernama Carol.Dia berambut pirang yang diikat seperti ekor kuda. Mereka tersenyum ramah kepada Kirey. Kirey langsung menyukai keduanya.
Setelah perkenalan selesai, dilanjutkan dengan pembahasan tugas dan shift jaga. Kirey, Carol dan July akan membantu dokter Palestina yang bekerja di UGD. Jam kerja dibagi menjadi dua shift. Bergantian tiap 12 jam
Setelah rapat selesai, mereka dipersilahkan beristirahat di ruangan masing-masing. Mereka akan tinggal di mess tenaga medis di basement rumah sakit.
Kirey baru merasakan betapa penat badannya. Bekas keringat terasa lengket di kulit putihnya. Bau keringat menguar dari tubuhnya. Jiwa dan raganya lelah. Dia begitu merindukan bantal.
***
Kirey baru menyelesaikan setengah rotinya, saat salah seorang perawat memberitahukan bahwa baru saja ada serangan udara di distrik Sabra. Kirey mempercepat mengunyah sisa roti di dalam mulutnya, minum seteguk air, lalu segera berlari ke arah UGD.
Dia meraih jas plastik di lemari penyimpanan UGD lalu mengenakan sarung tangan lateks ukuran medium. Suara sirine ambulans meraung-raung memekakkan telinga dari depan UGD. Kirey memanggil Najwa yang tampak tergopoh-gopoh berlari ke arah UGD, memintanya untuk mendampinginya.
Pemandangan berikutnya banar-benar di luar bayangan Kirey. Serbuan brankar masuk dari pintu UGD. Suara roda yang beradu dengan lantai berdecit-decit. Aroma anyir darah segera menyerbu hidung Kirey yang tertutup masker hijau. Kirey bersiap-siap di depan bilik triage.
Pemandangan berikutnya yang dilihatnya adalah sesosok bocah  dengan kesadaran menurun. Matanya setengah terpejam. Seluruh tubuhnya tampak tertutup debu berwarna abu-abu. Beberapa luka terbuka tampak di sekujur tubuhnya. Seorang lelaki yang berurai air mata mendampinginya sambil terus menerus mengucapkan sebuah kata yang Kirey tebak sebagai nama bocah itu. Kirey memberi isyarat kepada Najwa untuk meminta lelaki itu menunggu di luar bilik triage.
Dengan cepat Kirey melakukan pemeriksaan CAB (Circulatiob Airway Breathing) pada bocah itu. Nadi masih teraba, tetapi napasnya tampak tak beraturan. Tampak jejas di bagian samping tempurung kepala bocah itu. Kirey segera mendorong brankar ke arah bilik P1.
"New patient, with severe head injury. GCS 1x1. Ambubag and ETT please!" pinta Kirey pada seorang perawat wanita yang berjaga di P1.
Detak jantung Kirey bergemuruh. Adrenalin memgambil alih seluruh kewaspadaannya. Diraihnya laringoskop untuk anak dan membuka bladenya. Segera di susurinya lidah bocah itu, lalu diangkatnya laringoskop perlahan hingga tampak glotisnya. Kemudian diraihnya ETT ukuran anak yang di serahkan perawat tersebut dan dimasukkan perlahan-lahan hingga melewati pita suara. Setelah stylet dicabut perlahan, diraihnya ambubag dan dipasangnya ke muara ETT. Dipintanya perawat itu memompa ETT saat dia mengecek apakah udara berhasil memasuki paru-paru. Diraihnya stetoskop, dan diletakkan di atas dada yang mulai bergerak naik turun. Kirey menghembuskan nafas lega, udara berhasil masuk dengan sempurna. Baru disadari jika tangannya bergetar hebat. Lututnya pun terasa lemas.
Dipandanginya wajah bocah itu. Mungkin usianya sekitar delapan atau sembilan tahun. Dia terkenang dengan ponakannya di Jogja yang mungkin seumuran dengan bocah di hadapannya. Saat ini mungkin dia sedang berlari-lari dengan riang di sekolahnya. Kontras dengan bocah di hadapannya yang sedang berjuang melawan maut.
Kirey baru menyadari rembesan air pada pipinya. Dia tak sadar tengah menangis di P1. Dikerjab-kerjabkan matanya. Untuk menghapus air matanya tidak mungkin karena seluruh tubuhnya tertutup jas plastik. Dia tidak boleh melow dalam kondisi seperti ini. Masih ada yang harus diperiksa. Diraihnya senter pupil dan melanjutkan mengecek status neurologi bocah itu.
Pupil sebelah kiri tampak berdilatasi. Tanda adanya herniasi pada otaknya. Sirine di hati Kirey berbunyi. EDH (Epidural Hematome), batin Kirey. Segera dimintanya perawat yang berjaga di sebelahnya untuk membawa pasien ke ruang radiologi yang terletak di samping UGD. Dimintanya pemeriksaan CT scan cito untuk pasien di hadapannya.
Mata Kirey menyapu seluruh ruangan UGD yang saat ini penuh sesak dengan pasien baru. Beberapa dokter Palestina maupun asing bahu membahu menyelamatkan pasien. Serangan udara kali ini tampaknya cukup fatal. Brankar berisi pasien berdatangan bagai air bah, seolah tanpa henti. Beberapa korban dewasa, tapi banyak pula anak-anak bahkan bayi. Kirey memegang dadanya yang terasa teremas-remas. Tenggorokannya tercekat. Apa yang tersaji di hadapannya lebih mengerikan dari yang dibayangkannya. Sakit yang  dirasa di hatinya sebulan yang lalu tak sebanding dengan perih yang kini di rasakan. Mungkin hanya seujung kuku bila dibanding saat ini.
Sebagian besar korban yang berdatangan masih anak-anak. Bahkan ada yang masih belum lepas tali pusatnya. Mungkin usianya masih beberapa hari. Luka-luka tampak menganga di beberapa bagian. Ada yang datang dengan luka bakar gade dua dan tiga, ada yang datang dengan kaki atau tangan yang remuk dengan darah yang mengucur, tapi banyak pula yang datang dalam diam. Tanpa nadi, tanpa gerakan napas. Hidup mereka telah terampas, bahkan sebelum masa remaja mereka rasakan.
"Where is the patient with head injury?" Seseorang bertanya dengan logat british yang sangat kental. Kirey tersentak dari renungannya. Refleks ditolehnya asal suara itu.
Rupanya pemilik suara itu adalah dokter Adam, ahli neurosurgery dari UK. Bibirnya tertutup masker, tapi Kirey mengenali dari posturnya yang seperti atlet renang dan rambut pirang pendeknya.
"Still in radiology room, got CT scan. Suspect EDH." Kirey baru menyelesaikan kalimatnya saat seorang perawat wanita membawa hasil CT scan pasiennya tadi.
Dokter Adam langsung meraih hasil CT scan itu yang belum sepenuhnya diterima Kirey. Kemudian dengan sigap memasangnya pada photo viewer di dinding UGD.
Gambaran serupa dorayaki doraemon tampak pada foto. Tergambar pada bagian temporal kepala pasien. Ukurannya cukup besar. Tak heran pasien tadi kehilangan kesadarannya.
"Good job, dokter Rey. Send this patient to operating room. I will do craniectomy for this patient!" Telinga Kirey agak terganggu dengan cara dokter Adam memanggil namanya, mengingatkannya pada Abang Adlin.
"Just call me Kirey, Doc!" protes Kirey.
"What, curry? Sound delicious, ha!"
Kirey melirik tajam pada dokter Adam. Dipasangnya wajah paling judes yang dimilikinya. Dokter Adam mengacuhkannya, lalu mendorong sendiri brankar pasien EDH tersebut menuju OK.
Kirey terperangah. Hal kecil yang jarang dilihatnya di Indonesia. Seorang dokter spesialis yang rela mendorong sendiri brankar pasiennya. Biasanya mereka akan meminta perawat untuk membantunya.
"Sorry, Doc, new patient." Suara lembut menyadarkan Kirey. Perawat wanita yang sama mengangsurkan selembar status. Ujung jarinya menunjuk pada seorang ibu yang baru melewati pintu UGD. Hati Kirey langsung mencelos.
Di dalam dekapan ibu itu ada seorang anak yang meringkuk dalam diam. Luka menganga tampak di kepalanya yang mengucurkan darah segar. Ibu itu mengucapkan kata-kata dalam bahasa arab yang tidak dimengertinya. Dimintanya perawat yang bersamanya tadi untuk menenangkan sang ibu dan memintanya untuk membaringkan anaknya di atas bed pemeriksaan.
Nadi carotis tak teraba. Tak ada gerakan dinding dada. Tak ada suara hembusan dari cuping hidungnya. Dengan bergetar, Kirey meraih senter pupil dan menyorotkan ke arah dua pupil mata balita itu. Midriasis maksimal, tanpa ada refleks cahaya.
Hati Kirey mencelos. Embun menggenang di matanya. Ditolehnya perawat itu. Kepalanya menggeleng perlahan. Perawat itu segera paham. Lalu dengan perlahan menjelaskan kepada ibu berjilbab hitam itu. Seketika suara rintihan yang menyayat hati menggaung di bilik triage yang sempit itu. Aroma kepedihan dan kehilangan menguar dari seorang ibu yang tengah memeluk jasad anaknya. 
Kirey kehilangan kata-kata. Dengan perlahan, diberinya ruang bagi ibu itu untuk mengucapkan salam perpisahan. Hatinya ikut pilu. Merasa betapa kerdil dirinya, begitu menderita hanya karena perpisahan  dengan seseorang yang batal menjadi imamnya. Bahkan sempat berharap mati saja supaya Abang menyesali kepergiannya.
Sedangkan dihadapannya adalah perpisahan untuk selamanya. Seorang ibu  dengan darah dagingnya, dengan semestanya.
Kirey memejamkan matanya yang basah. Tak ada kata terlambat untuk memperbaharui niatnya. Dengan mengucap bismillah, diniatkannya seluruh usahanya untuk ibadah.

*Sepenuhnya fiksi, tidak berkaitan dengan individu ataupun organisasi manapun
Keterangan :
Epidural hematoma (EDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara bagian dalam tengkorak dan dura (selaput tebal yang menutupi otak).
ETT Endotracheal Tube (ETT) adalah sejenis alat yang digunakan di dunia medis untuk menjamin saluran napas tetap bebas
GCS (Glasgow Coma Scale) adalah skala yang dipakai untuk menentukan/menilai tingkat kesadaran pasien, mulai dari sadar sepenuhnya sampai keadaan koma.
Translate :
We meet again. Nice to meet you : kita bertemu kembali. Senang bisa bertemu kembali
Where is the patient with head injury? Dimana pasien dengam trauma pada kepala?
Still in radiology room, got CT scan : masih di ruang radiologi. Sedang dilakukan CT scan
Good job, dokter Rey. Send this patient to operating room. I will do craniectomy for this patient : kerja bagus, dokter Rey. Kirim pasien ini ke ruang operasi. Saya akan melakukan operasi buka kepala
Just call me Kirey, Doc : panggil saya kirey, dok
What, curry? Sound delicious, ha! : Apa? Masakam kari? Kedengarannya enak
Sorry, Doc, new patient : maaf dok. Ada pasien baru
S Gotama.


Jumat, 08 Juni 2018


AKHIRNYA ISLAM BERJAYA


Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah yang bertahta selama 500 tahun dengan segala kebesarannya lenyap dari muka bumi.
Baghdad luluh lantak dihancurkan. 1,8 juta kaum muslimin di Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak. Tua, muda bahkan kanak-kanak. Laki-laki maupun perempuan, hingga janin di dalam kandungan semua dipenggal.
Khalifah dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah. Tentara yang biadab memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab-kitab, manuskrip-manuskrip sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga berwarna kehitaman. Siapa pelakunya?
Mereka yang bengis itu disebut Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil yang telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi Muhammad saw. Kita mengenalnya sebagai bangsa Mongol atau Tartar yang kala itu dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan.
Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.
Ambisi selanjutnya adalah menaklukan  Mesir dan mengutus delegasi Mongol ke Mamluk Mesir, dimana pemimpin saat itu adalah Sultan Syaifuddin Muzaffar al Quthuz. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan yang isinya,
"Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?
Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.
Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”
Isi surat tersebut jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam, cuma ada dua opsi, menyerah atau berperang. Syaifuddin Quthuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka karena tertangkap tangan melakukan tindakan spionase. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.
Kemudian Al Quthuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara dan bergerak menuju Ain Jalut di Palestina untuk menantang tentara Mongol. Bahkan istri sang sultan ikut berjuang dan memilih jalan jihad bersama kekasihnya.
Pada malamnya Quthuz dan pasukan Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah demi kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam jum'at 25 Ramadhan, mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Semoga Allah menerima mereka sebagai hamba-Nya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari. Hari di mana mereka menebus semua kematian jutaan umat Islam di tangan Mongol. Hari dimana kekhalifahan Islam akan sirna selamanya jika Mongol berhasil mengalahkan mereka.

JUM’AT, 25 RAMADHAN 658 H
Sultan Quthuz berdiri gagah, ia hendak memotivasi seluruh tentara gabungan Mesir, Syam dan Turki, serta seluruh rakyat Mesir untuk bergerak menuju jihad di jalan Tuhan. Suaranya begitu lantang dan keras, membuat jiwa bergetar, dan mengalirkan air mata, kata-katanya terdengar nyaring, menyerukan jihad paling menentukan dalam sejarah.
“Jika Mongol memiliki kuda, panah, tameng, dan manjanik. Maka kita punya yang tak terkalahkan oleh apapun, kita punya Allaaaaah Azza wa Jalla.”
Suara takbir bergemuruh, semangat pasukan terbakar, dan rakyat  berjanji akan bertempur bersama sultan mati-matian, hingga darah penghabisan.
Bertemulah Kedua kekuatan tersebut di Medan perang Ain jalut, Pasukan Mamluk dengan mengandalkan pasukan kavaleri sebagai kekuatan utama di pimpin oleh Jendral Baibars dengan Sultan Quthuz mengamati dari dataran tinggi sementara Pasukan Mongol dipimpin langsung oleh jendral tangan kanan dan kepercayaan Hulagu Khan, Qitbuka Noyan.
Baibars yang memiliki jumlah pasukan kaveleri yang lebih sedikit menggunakan taktik "hit and run" dalam melawan pasukan Mongol hingga terjadi pertempuran selama berjam-jam sampai pada akhirnya pasukan Mongol jatuh ketengah-tengah perangkap pasukan Mamluk.
Melihat lawannya sudah masuk kedalam perangkap, pasukan Mamluk yang bersembunyi mulai keluar dan langsung menghujani pasukan Mongol dengan panah dan meriam kecil dalam penyerangan ini.
Ketika pasukan lawannya sudah berada dalam posisi terdesak, pasukan kavaleri Mamluk lain yang juga bersembunyi serta kemudian disusul oleh Infantrinya langsung menyerbu lawannya dalam empat posisi, menutup jalan keluar bagi pasukan Mongol.
Qitbuka yang menyadari bahwa pasukannya tidak mempunyai harapan lagi untuk melawan pasukan Kaveleri utama pimpinan Baibars dan memenangkan pertempuran, serta pasukannya terpojok ditengah-tengah, segera memerintahkan keseluruhan sisa pasukan yang dimilikinya untuk memfokuskan penyerangan ke posisi sayap kiri pasukan Mamluk pimpinan Al-Mansur Mohammad yang dirasa paling lemah, untuk membuka jalan keluar bagi pasukan yang dipimpinnya. Setelah digempur secara gencar akhirnya posisi sayap kiri pasukan Mamluk menjadi goyah.
Dari dataran tinggi, Sultan Quthuz yang mengamati jalannya pertempuran, melihat posisi sayap kiri pasukannya mulai terbuka akan dijebol pasukan Mongol, seketika itu pula ia membuang topeng bajanya ke tanah hingga wajahnya dapat terlihat oleh seluruh pasukannya, Sambil mengacungkan senjata Ia menggebrak kudanya ke arah posisi sayap kiri pasukannya,dan berteriak keras-keras,
"Demi Islam!..Demi Islam!"
Melihat sultannya menuju ke arah mereka, seketika itu pula moral dan semangat bertempur pasukan sayap kiri Mamluk meningkat, mereka kembali meningkatkan pertahanan dan tekanan kepada pasukan Mongol, satu-persatu pasukan Mongol berjatuhan terbunuh termasuk Qitbuka.
Pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani dan panji-panji Islam kembali ditegakkan.
Sultan Syaifuddin Muzhaffar al Quthuz meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!
Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun di bawah pemerintahan pemuda legendaris ini.
Lalu bagaimana dengan kita? Di penghujung Ramadhan ini, apakah yang telah kita persiapkan, korbankan bahkan perjuangkan untuk menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran di sepanjang hidup kita?
Ramadhan adalah bulan perjuangan. Mulai dari perang Badar, perang Tabuk, menggali parit untuk perang Khandaq, penaklukkan Makkah, penaklukkan Andalusia, serta banyak peperangan terjadi di bulan ini termasuk perang Ain Jalut. Maka bukan kebetulan juga jika kemerdekaan bangsa ini diproklamirkan pada hari jum'at 9 Ramadhan.
Selain bulan perjuangan, Ramadhan juga bulan kemenangan. Maka mari jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum revolusi. Mari kita berjuang, tentu saja bermula dari melawan hawa nafsu kita sendiri untuk menang dan merdeka baik sebagai diri, ummat dan bangsa. Karena tak ada yang tak bisa diraih jika perjuangan (Fight) dikombinasikan dengan keimanan (Faith).
Semoga cerita tersebut diatas menginspirasi kita semua, untuk terus bersiap siaga menjaga kehormatan diri, agama, bangsa dan negara.
Wallahu'alam bishowab...


Minggu, 03 Juni 2018

             DAHSATNYA BERSHOLAWAT KEPADA  
                        NABI MUHAMMAD    SAW
     
Kisah ini diambil dari Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar di Mesir',  beliau bercerita tentang seorang yang terbelit  banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya.
Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang.
Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang sebanyak 500 dinar.
Saking terkenalnya kebangkrutannya dan sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya,
"Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini ?"
”Minggu depan tuan.” jawabnya singkat.
Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di genggamannya.
Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.
Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun tiba.
Saudagar mendatangi rumah si miskin dan mengatakan,
”Tempo hutang anda telah tiba.”
Dengan suara lirih dia menjawab, ”Demi Allah saya sedang tak berhasil mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha untuk melunasi.”
Saudagar merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim.
Di pengadilan, Hakim bertanya:
”Mengapa anda tidak membayar hutang anda ?”
Dia menjawab, ”Demi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan.”
Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya.
Kemudian si miskin bangkit dan berkata, ”Wahai tuan Hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara."
Hakim meragukannya, ”Bagaimana mungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok ?"
Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. "Rasulullah SAW jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah SAW.”
Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si miskin bohong.
Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi Rasulullah SAW. Hukuman pun ditunda sampai besok.
Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya bahwa esok akan dipenjara. Istrinya bertanya : ”Kok sekarang engkau bisa bebas ?"
”Aku menaruh nama Rasulullah SAW sebagai jaminanku.” jawabnya.
Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya, ”Jika nama Rasulullah SAWyang menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat."
Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah  SAW dengan rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur.
Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah SAW. Beliau memanggil nama si miskin seraya berkata, ”Hai fulan jika telah terbit fajar pergilah ke tempat Alim fulan. Sampaikan salamku padanya dan mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika Alim itu tidak percaya maka sampaikan 2 bukti ini, pertama, katakan padanya bahwa dimalam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali, dan dimalam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya. Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya."
Seketika si miskin terbangun dan terkejut. Tanpa ragu setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya, ”Wahai tuan, Rasulullah SAW telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau sudi menyelesaikan hutang piutangku.”
Alim bertanya, ”Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu ?”
”Kata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak 1000 x dan dimalam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah SAW mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna, dan shalawat anda telah diterima olehnya.”
Mendengar itu, Alim itu spontan menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah SAW. Maka alim tersebut memberi uang 500 dinar dari baitul mal untuk melunasi hutang si miskin dan 2500 dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.
Dengan dana itu si miskin langsung bergegas pergi ke Hakim untuk menyelesaikan perkaranya.
Sesampainya di pengadilan, si Hakim bangkit dari kursinya menyambut si miskin seakan sudah rindu. Dengan senyum lebar sang Hakim memanggilnya seraya berkata:
”Kemarilah, berkat kamu aku mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah SAW akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk lunasi hutang-hutangmu."
Belum juga Hakim selesai bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang. Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap, ”Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah. Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat,Rasulullah SAW akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutangmu lunas."
”Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi (Muhammad S.A.W) maka wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya.” (Al Ahzab;56)
Semoga kisah diatas menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih dan Rosul Allah SAW..
اللّهمّ صلّ Ùˆ سلّÙ… Ùˆ بارك على سيّدنا محمّد Ùˆ على آل سيّدنا محمّد
Alangkah baiknya,  jika komen anda adalah sholawat kepada Baginda Rasululloh SAW.. 
 Semoga kita senantiasa selalu diakui sebagai umatnya dan pantas mendapat berkah dan syafaatnya.  Amin