InspirasI

Senin, 29 September 2014

PENGORBANAN NABI   ZAKARIA

Zakaria AS adalah salah satu Nabi Alloh SWT. Konon, pengorbanan beliau sebagai seorang Nabi sangat luar biasa dan itu sangat menginspirasi kita yang hidup di jaman setelahnya. Berikut cerita Nabi Zakaria AS yang dikirim sang sahabat via e-mail. Semoga kita bisa memetik hikmah yang terkandung di dalamnya!
Dalam usia yang masuk uzur, Zakaria AS merindukan kehadiran seorang putra. Ia khawatir jika hingga ajal dicabut belum juga memiliki keturunan, maka siapa nanti yang akan meneruskan perjuangan syiar agama-Nya. Karena itulah Zakaria AS tak pernah berhenti bermunajat kepada Allah SWT, minta agar Dzat Yang Maha Perkasa memberinya anak.
“Yaa, Allah, yaa Rabb. Janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri. Engkau sebaik-baiknya Dzat yang memberi keturunan. Yaa, Tuhanku, telah lemah tulang belulangku, telah penuh uban di kepalaku, dan bukanlah aku seorang sial dalam berdoa kepada-Mu. Sedangkan istriku adalah seorang perempuan mandul, berilah kepadaku dari karunia-Mu seorang anak yang kelak akan menjadi penggantiku,” doa Zakaria AS tak berhenti hanya sekali. Ia tak ingin kobaran semangat syiar agama yang ada di pundaknya terputus gara-gara tidak punya keturunan. Sementara kondisi rahim sang istri sudah tidak mungkin untuk melahirkan anak.
Doa Zakaria AS dijawab oleh Allah SWT. Melalui malaikat utusan-Nya, Allah SWT menjanjikan Zakaria AS akan dikaruniai seorang anak yang kelak diberi nama Yahya. “Belum pernah ada manusia yang bernama Yahya,” kata Sang Malaikat utusan Allah SWT. Namun jawaban dari Allah SWT tersebut justru membuat Zakaria AS merasa kebingungan. Bagaimana mungkin aku bisa membuahi rahim istriku, sementara aku sudah tidak punya kemampuan lagi mendekatinya? Bagaimana mungkin pula rahim istriku yang mandul dapat mengandung putra pemberian-Mu? Rasa gundah ini muncul karena memang Zakaria AS yang hidup di jamannya saat itu punya sifat selalu ingin jelas dan nyata dalam menghadapi persoalan apapun.
Gundah hati Zakaria AS segera pula dijawab oleh Allah SWT. Melalui Sang Malaikat, Dia berkata, “Bukankah Allah yang menjadikanmu, sedang sebelumnya kamu tidak ada? Dan Tuhan itu pulalah yang akan memberi engkau anak?”
Tanda-tanda kebesaran Sang Illahi pun terjadi. Istri Zakaria AS yang sudah uzur dengan rahim yang mandul suatu ketika diketahui hamil. Dari rahim sang istri itulah lahir seorang bayi laki-laki yang kemudian, sesuai dengan petunjuk Allah SWT, diberi nama Yahya. Kelak anak itu akan tumbuh jadi seorang pemimpin (nabi) yang mempunyai kecerdasan luar biasa, tegas dalam mengambil keputusan, serta memiliki keimanan yang teruji. Ia pun hafal segala isi Kitab Suci Taurat dan menerapkannya dalam perikehidupan sehari-hari.
Alkisah, Yahya, setelah ia tumbuh dewasa, ditetapkan sebagai seorang penghukum atau hakim. Saat mengemban amanah sebagai hakim, ia pernah menghadapi dilema yang sangat pelik. Dilema itu berawal dari keinginan Raja Hirodus yang menguasai Negeri Palestina yang hendak meminang salah seorang keponakan Yahya. Sang keponakan yang diceritakan berparas sangat cantik itu bernama Hirodia. Raja Hirodus sudah datang kepada orangtua Hirodia dan keputusan untuk mengawini gadis itu sudah bulat.
Mendengar kabar bahwa Hirodia akan dinikahi oleh Raja Hirodus, bukan main marahnya Yahya. Ia memvonis perkawinan kedua orang itu tidak sah karena bertentangan dengan ketentuan yang terkandung dalam Kitab Suci Taurat. “Perkawinan mereka tidak akan saya akui dan saya akan menentang sekeras-kerasanya perkawinan mereka!” ujar Yahya sambil menyebutkan, Hirodia atau Harduba itu sesungguhnya adalah anak Raja Hirodus itu sendiri. Kabar tersebut disampaikan oleh Abdullah bin Zubair. Sementara dari As-Suddy mengatakan, Hirodia merupakan anak tiri dari Raja Hirodus yang hukumnya “haram” dinikahi olehnya (Raja Hirodus). Begitu pula Ibnu Abbas memberi kabar, Hirodia masih merupakan anak saudara laki-laki Raja Hirodus. Semua argumentasi tersebut menurut Kitab Taurat, sama dengan hukum Al-Qur’an, sangatlah tidak halal Raja Hirodus memperistri Hirodia!
Keputusan Yahya demikian, tentu saja, membuat berang Raja Hirodus dan membuat kecewa Hirodia. Lalu keduanya mengatur siasat untuk menghabisi Yahya karena dianggap telah mengacaukan rencana perkawinan mereka. Hirodia pun, dengan kecantikan yang dimilikinya, berusaha menggoda Yahya. Namun kemolekan rupa dan tubuh gadis itu sama sekali tidak membuat Yahya mengubah keputusannya.
Gagal menggoda Yahya dengan berahi yang ditawarkannya, Hirodia lantas menghasut Raja Hirodus untuk membunuh “hakim agung” yang dianggapnya keras kepala itu.  Permintaan sang kekasih itu tentu saja tidak ditolak oleh Raja Hirodus yang memegang tampuk kekuasaan sebagai raja di negerinya dari tahun 4 sebelum Masehi hingga tahun 37 sesudah Masehi. Raja dzolim itu pun segera menangkap Yahya, kemudian memenjarakannya. Diriwayatkan, di dalam penjara itulah lelaki yang kemudian dalam sejarah dikenal sebagai Nabi Yahya AS tersebut dibunuh dengan cara yang biadab: disembelih!
Cerita di atas menunjukkan bahwa, Nabi Zakaria AS telah melakukan pengorbanan yang sangat luar biasa. Tidak semua umat manusia, apalagi yang hidup di jaman sekarang, yang bisa menyamai pengorbanan beliau. Yakni harus rela kehilangan putra semata wayang yang tewas dengan cara mengenaskan, padahal sebelumnya beliau sangat berharap hadirnya seorang anak untuk melanjutkan tugas-tugasnya sebagai Utusan Allah SWT. Padahal saat itu sangat memungkinkan bagi Nabi Zakaria AS memengaruhi Yahya untuk mencabut keputusannya atau mencari solusi lain, lalu merestui perkawinan Raja Hirodus dengan Hirodia. Apa pula pengorbanan lain dari sosok Nabi Zakaria AS?
Setelah menghabisi Nabi Yahya AS dengan cara keji, Raja Hirodus mencari pula Nabi Zakaria AS. Mungkin dia berpikir orang itu kelak akan pula menghalangi keinginannya mengawini Hirodia, gadis cantik pujaan hatinya. Karena itu, Raja Hirodus berniat menghabisi pula Nabi Zakaria AS! Rupanya Raja Hirodus ingin meneruskan “kepiawaian” sang bapak dalam urusan bunuh membunuh manusia. Konon sang bapak, Raja Hirodus Agung, adalah pembegal ratusan nyawa manusia.
Kabar dirinya hendak dibunuh oleh Raja Hirodus, rupanya terendus oleh Nabi Zakaria AS. Beliau pun lari untuk bersembunyi dan menyelamatkan diri. Konon Nabi Zakaria AS sempat bersembunyi di sebuah kebun dekat kota Yerusalem. Tetapi apa lacur tempat persembunyian beliau diketahui oleh balatentara Raja Hirodus. Sebatang pohon yang membelah dirinya dan mempersilakan Nabi Zakaria AS bersembunyi di dalamnya, ditunjukkan oleh iblis kepada tentara Raja Hirodus. Alhasil, batang pohon tempat bersembunyi Nabi Zakaria AS digergaji oleh mereka. Nabi Zakaria AS tewas dengan tubuh terbelah dua!
Allah SWT pun murka. Kematian para Sang Kekasih itu kemudian dibalas oleh-Nya dengan menimpakan berbagai bencana kepada kaum Bani Israil yang merupakan  kaum Raja Hirodus. Dalam sebuah kisah diceritakan, mereka pernah terbunuh hingga 120.000 orang dalam sebuah peperangan yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai serangan Nebukadnezar dari Babill dan serangan Titus dari Kerajaan Romawi. Dan itu terjadi sebelum serta sesudah kelahiran Nabi Isa bin Maryam AS.


Jumat, 26 September 2014


FILSAFAT PENDIDIKAN NABI IBRAHIM


      Nabi Ibrahim merupakan teladan (Q.S al-Mumtahinah, 04) di dalam pendidikan unggulan di dunia modern. Karena Nabi Ibrahim ternyata sangat cerdas di dalam melihat fenomena yang sedang terjadi dan berkembang disekitarnya. Saat Istri Ibrahim melahirkan Ismail, dimana Babylonia kala itu, tidak memungkinkan untuk sebuah pertumbuhan (tarbiyah) seorang anak. Seperti emosional, piritual, walaupun secara fisik anak bisa tumbuh dengan baik dan sempurna. Ibrahim segera mengambil inisiatif, yaitu membawa istri dan putrinya menjauhi tempat yang banyak vitus pendidikan.
Langkah-langkah yang ditempuh oleh Nabi Ibrahim agar supaya pertumbuhan anak bisa berkembang dengan baik, sebagai berikut:
a. Memilih Tempat :
Nabi Ibrahim memilih kota Makkah. Di tempat sacral inilah Ibrahim memluai hidupnya. Ismail masih balita, ia ingin menyelamatkan keluarganya dari suasana yang tidak kondusif, yang sekaligus menyelamatkan anak dan keluarganya dari komunitas yang penuh dengan kesyirikan kala itu. Di tempat ini, Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya. Langkah ini diambil dalam rangka ingin menyelamatkan keturuanan dari kesyrikan, serta komunitas yang tidak baik bagi masa depan pertumbuhan anaknya. Dalam sebuah ayat al-Qur’an, Allah SWT berfirman:” Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur. Nabi Ibrahim memilih kota Makkah yang masih bersih nan suci. Ia yakin kelak anak dan istrinya akan menjadi orang yang bermanfaat, karena tempat tersebut mendukung bagi kelangsungan pertumbuhan spritualnya. Walaupun kondisi Makkah pada waktu itu sangat tandus nan kering. Tapi, ia benar-benar yakin, bahwa Allah SWT ikut campur tangan di dalam mendidik anaknya untuk menjadi generasi sholih, yang selalu menjalankan perintah-Nya. Di dalam dunia pendidikan modern, memilih lembaga pendidikan formal sangat penting, baik Negeri atau swasta. Tempat (lembaga Pendidikan) modern harus memiliki criteria, antara lain (1) Bagus serta Kondusif ketika dalam proses belajar mengajar (2) Lingkungan sehat, dan pergaulan juga mendukung (3) Manajemennya bagus dan disinplin, baik proses belajar atau adminitrasinya (4) Terhindar dari kontaminasi barang-barang terlarang (5) Kualitas tenaga pengajarnya mumpuni disiplin ilmunya masing-masing.
b. Motivasi Orangtua: Ibrahim adalah sosok yang senantiasa memberikan motivasi terhadap putra-berupa do’a. Beliau sadar, bahwa dirinya tidak bisa memberikan dorongan, atau menumbuhkan (mendidik) fisik secara langsung. Oleh karena itu, beliau memberikan makanan ruhani (do’a) setiap saat, agar putranya senantiasa mampu melangsungkan kehidupan di Makkah bersama Ibunya. Dorongan do’a Ibrahim itu tertuang di dalam al-Qur’an yang artinya:” Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur. di dalam redaksi lain, Nabi Ibrahim berdo’a ‘’ Ya Allah, jadikanlah kami orang yang senantiasa menjaga sholat dan juga keturunanku”.

c. Kompak Dengan Istri. Ibrahim bukan hanya memilih tempat yang tepat. Tetapi, sang istri juga termasuk wanita tangguh serta sholihah. Lihat saja, ketika Ibrahim diutus meninggalkan kota Makkah menuju palestina. Sang istri tegar serta perkasa. Hajar menjadi single parent, selama Nabi Ibrahim pergi ke-Palestina dalam rangkan melaksanakan perintah-Nya. Sejak kaki menginjak tanah Makkah, ia melempar pan dangan pada tanah kosong yang ada di sekelilingnya dengan perasaan tak menentu disertai pertanyaan kepada Ibrahim apakah ia telah meninggalkan mereka. la tak menjawab. Lalu ia bertanya adakah ini perintah Allah? Ibrahim lalu mengiyakan. Mendengar jawaban itu ia berkata, “Jika demikian halnya, Tuhan tak akan membuat kita sia-sia.” Pada akhirnya, air Zamzam menyembur dari dalam tanah gersang membasahi kaki si kecil, Isma’il.
Hajar begitu ihlas, sedangkan Ibrahim begitu yakin dengan istrinya yang mampu mendidik anaknya.

a. Demokratis. Di samping menjadi ayah yang baik bagi kedua istri, dan anak-anaknya. Ternyata, Nabi Ibrahim sosok pendidik yang demokratis. Beliau r.a lebih mengedepankan pendekatan musawarah. Ini terlihat ketika ia, sedang bermimpi (wahyu), agar menyembelih Ismail. Ibrahim tidak bertindak otoriter, atau diktaror terhadap sang putra. Di dalam al-Qur’an dialog antara Ibrahim dan Ismail di abadikan sebagai berikut “Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar” Selanjutnya, al-Qur’an menjelaskan dialog antara anak yang sabar (Ismail) dengan orangtuanya yang demokratis. Nabi Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana menurut pendapatmu! ia menjawab: “Hai Ayahandaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar“. Selanjutnya, ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
     Di dalam dunia pendidikan, Filsafat pendidikan Nabi Ibrahim perlu direnungi untuk menghasilkan generasi unggulan dan berkualitas. Jika dilihat dari kontek ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa Ibrahim lebih mementingkan makanan ruhani seorang anak dari pada makanan jasmani. Dilihat dari kondisi tempat, Makkah saat itu sangat kering, tidak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan fisik (makan, minum). Tapi, tempat itu sangat memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan rohani (spiritual). Dan ternyata, kekuatan spiritual itu yang mampu membentuk kepribadian seorang anak dikemudian hari.
      Terahir, yang dilakukan Nabi Ibrahim adalah tawakkal kepada-Nya. Karena hanya tawakkal inilah yang bisa menghilangkan rasa kekhawatiran-kekhwatiran yang menyelimuti dirinya. Bagaimana mungkin, sang ayah meninggalkan anak dan istrinya ditempat yang kering, tandus, tiada satupun orang, semesntara itu tidak ada tumbuhan yang dapat di makanan, atau mata air yang bisa digunakan air minum.
       Di dalam sebuh do’a Nabi Ibrahim memohon kepada-Nya, dengan curahan air mata agar do’a yang dipanjatkan dikabulkan serta menjadi sebuah kenyataan, bukan hanya sekedar teori-teori yang Nampak dipermukaan.

Kamis, 25 September 2014

PENGORBANAN HEWAN KURBAN
 DI IDHUL ADHA


      Idul Adha hari raya umat Islam seminggu lagi  umat islam akan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
        Pada Idul Adha hari ini dan besok kita akan coba memaknai dari arti sebuah pengorbanan para hewan yang dihalalkan untuk kurban di Idul Adha bagi umat manusia, khususnya bagi kaum muslim.
Kita tahu hewan-hewan yang hari ini dijadikan sebuah persembahan untuk kurban di Idul Adha adalah hewan-hewan yang wajib dan dihalalkan oleh agama Islam untuk disajikan dan dibagikan kepada umat muslim, khususnya untuk para kaum miskin. Dan kita paham betul hewan-hewan itu adalah bagian dari sekian banyak mahkluk Allah yang diciptakan-Nya, selain manusia, malaikat, jin maupun tumbuhan.
     Mereka para hewan kurban tidak sesempurna apa yang dimiliki manusia. Mereka tidak punya akal dan pikiran, akan tetapi dibalik semua itu mereka sungguh besar manfaatnya bagi kehidupan manusia. Mereka para hewan kurban yang tidak memiliki akal dan pikiran justru lebih besar memiliki rasa pengorbanannya kepada manusia. Mereka rela dan ihklas di sembelih juga kemudian di masak untuk berbagai hidangan yang kemudian di makan oleh umat manusia yang menyebelihnya.
      Pengorbanan para hewan kurban ini sesungguhnya lebih besar dari pada pengorbanan umat manusia. Mereka para hewan tidak pernah menuntut imbalan apapun dalam pengorbanannya kepada manusia. Dan mereka para hewan kurban tidak pernah meminta imbalan balik kepada manusia, agar manusia pun mau mengorbankan dirinya untuk  mereka hewan kurban. Inilah perbedaan kandungan makna di sebuah keihklasan dan pengorbanan.
      Kita tahu bahwa kita sebagai umat manusia yang diciptakan Allah SWT adalah mahkluk yang sempurna, dan hal itu sesuai dengan apa yang terkandung di dalam kalimat Allah SWT di kitab suci Al-Qur’an (kitab sucinya umat Islam).  Akan tetapi kesempurnaan manusia yang diciptakan Allah SWT justru tidak pernah sedikitkpun dijadikan sebuah rasa syukur yang dalam bagi manusia itu sendiri.
      Manusia lebih cenderung kepada kerakusan, keserakahan dan kekuasaan. Manusia lebih mementingkan keistimewahan dirinya sendiri. Dan manusia juga jauh dari rasa rela pengorbanannya kepada sesamanya. Kita sebagai umat manusia lebih cenderung kepada egoisme yang berlebihan dalam semua permasalahan. Justru lebih banyak yang salah adalah benar, dan yang benar adalah salah. Begitu pula kita selalu menilai kepada kebaikan manusia lainnya belum tentu kebaikan itu adalah kebenaran.
       Inilah perbedaan yang mendasar yang dimiliki manusia dengan hewan-hewan kurban di Idul Adha tahun ini. Hewan-hewan kurban tidak pernah membantah apa yang diperintahkan manusia, mereka para hewan kurban juga ihklas menerima perlakuan manusia yang sering menyakitkan fisiknya bahkan jiwanya. Akan tetapi para hewan kurban tahu kalau memang dirinya diciptakan Allah SWT adalah hewan yang memang harus berbakti kepada manusia dalam berbagai urusan.Para hewan kurban juga begitu patuhnya menjalankan perintah Allah SWT untuk menerima takdirnya dihadapan manusia. Beda dengan manusia, manusia justru lebih banyak melalaikan dan bahkan menyepelekan segala perintah dan larangan Allah SWT. Kebaikan lebih banyak dijaukan justru keburukan lebih diutamakan.
     Di hari raya Idul Adha ini mari kita kembali kefitrahnya diri kita sendiri sebagai umat manusia yang sempurna di dalam ciptaan Allah SWT. Kita sama-sama memaknai arti Idul Adha itu sendiri dan sekaligus memahami arti pentingnya pengorbanan para hewan kurban di Idul Adha tahun 2014 ini.
     Di hari Idul Adha, bagi umat manusia, khususnya umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban. Pada dasarnya, penyembelihan hewan kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Allah SWT yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.
    Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.
      Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.
     Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. (kompasiana).


Rabu, 24 September 2014


PENDIDIKAN  DAN RUH BANGSA

         PENDIDIKAN suatu bangsa itu selalu linier dengan peradaban bangsa itu sendiri. Bangsa yang memiliki sistem pendidikan baik lah yang akan menghasilkan akademisi yang tangguh dan siap berkompetisi pada zamannya. Out put pendidikan yang kompitebel sejalan alias berbanding lurus dengan penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Dengan adanya SDM yang baik juga akan menjadikan peradaban bangsa itu maju dan diperhitungkan oleh dunia.
            Permasalahan pendidikan di Indonesia nampaknya masih dipandang sebelah mata. Terbukti, prioritas pendidikan hanyalah sebatas wacana yang aplikasinya jauh dari apa yang telah dirumuskan. Janji pemerintah yang akan mengulirkan anggaran pendidikan sebesar 20% dari jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terkesan membesar-besarkan. Bukti di lapangan menunjukkan bahwa objek dari anggaran itu belum mengenai sasaran yang tepat dan masih terlalu bias. Aspek mana dari pendidikan itu yang akan dibiayai dan sektor mana yang seharusnya tidak perlu diberi kucuran dana belum dijelaskan secara rinci dalam Undang-undang yang ada.
        Melihat kondisi yang ada, selayaknya bangsa ini sadar bahwa penyebab keterpurukan bangsa di mata dunia adalah ketidakmampuan Indonesia dalam menciptakan iklim pendidikan yang baik, kondusif dan relevan untuk seluruh rakyat Indonesia. Bangsa ini belum mampu memosisikan pendidikan sebagai sesuatu yang paling urgen (sakral) yang berpengaruh terhadap kemajuan dan peradaban bangsa ke depan. Sehingga wajar jika kemudian banyak anak bangsa yang belum bisa mengenyam pendidikan dasar sekalipun, masih begitu sulit bagi rakyat kecil untuk menikmati pendidikan layaknya kaum berada lagi mampu. Padahal negara sebagaimana termaktub dalam UUD akan menjamin pendidikan anak bangsa.
          Penghargaan bangsa terhadap ilmu pengetahuan akan mempengaruhi spirit (ruh) bangsa yang bersangkutan untuk menyiapkan sistem pendidikan yang merakyat dan berproyeksi jauh ke depan. Dengan demikian pendidikan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang formal temporal melainkan wadah untuk menggali investasi demi terwujudnya masa depan bangsa yang cerah yang wajib didapatkan oleh setiap warga negara. Hal ini karena pendidikan adalah modal utama yang tiada pernah sirna dan lekang dimakan waktu, ilmu pengetahuan akan tetap terkristal erat dalam jiwa pemiliknya yang akan membentuk keterampilan (skill) dan kepribadiannya. Sehingga efek dari pendidikan itu akan benar-benar berpengaruh terhadap kemajuan dan kejayaan bangsa di masa yang akan datang.
         Apabila bangsa sudah bisa memaknai urgensi pendidikan sebagai tonggak penentu peradaban bangsa ke depan maka mulai saat ini harus segera diformulasikan sebuah sistem yang mengacu pada integritas pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukanlah sesuatu yang parsial melainkan kesatuan yang holistik yang semestinya diberikan kepada para pemuda, anak bangsa secara berkelanjutan. Hal ini dilakukan agar kualitas pendidikan bangsa semakin hari semakin meningkat baik dan tentu akan terus memperbesar investasi bangsa untuk menciptakan bangsa yang berperadaban dan berdaya saing tinggi di mata dunia. Semakin baik kondisi pendidikan Indonesia maka semakin tinggi pula probabilitas bangsa tercinta ini untuk memperoleh kejayaan di masa mendatang tentunya

Senin, 22 September 2014

Saat Ini Adalah Karunia


     “Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bola tersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit dan kita harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara.
Kita akan segera mengerti bahwa ternyata “Pekerjaan” hanyalah sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali.Tetapi empat bola lainnya *Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit-terbuat dari gelas.
    Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping. Dan ingatlah mereka tidakakan pernah kembali seperti aslinya. Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya. Bagaimana caranya ?
Jangan rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita special.
Jangan tetapkan tujuan dan sasaran Kita dengan mengacu pada apa yang orang lain anggap itu penting. Hanya Kita yang mengerti dan dapat merasa “apa yang terbaik untuk kita”.
    Jangan mengganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti.
Jangan biarkan hidup kita terpuruk dengan hidup di ‘masa lampau’ atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidupmu.
     Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan.Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha. Jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain. Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani.
    Jangan berusaha untuk mengunci Cinta memasuki hidupmu dengan berkata : “tidak mungkin saya temukan”. Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya “sayap”.
     Janganlah berlari, meskipun hidup tampak sangat cepat, sehingga kita lupa dari mana kita berasal dan juga lupa sedang menuju kemana kita. Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.
     Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu Pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat Kita bawa kemanapun tanpa membebani. Jangan gunakan waktu dan kata-kata dengan sembrono. Karena keduanya tidak mungkin kita ulang kembali jika telah lewat. Hidup bukanlah pacuan melainkan suatu perjalanan dimana setiap tahap sepanjang jalannya harus dinikmati.

Dan akhirnya resapilah :
MASA LALU adalah SEJARAH,
MASA DEPAN merupakan Misteri dan
SAAT INI adalah KARUNIA.



Minggu, 21 September 2014


TANDA-TANDA CINTA KEPADA RASULULLOH SAW

Assalamualaikum wr wb
Sahabatku rahimakumullah,
Cinta adalah sebuah anugerah yang Allah SWT berikan pada setiap hati makhluknya. Sebagai manusia yang memiliki akal, kita harus bisa menempatkan cinta itu pada Allah SWT dan manusia yang tepat, manusia yang dapat membimbing kita meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu Rasul Saw.
Kecintaan kepada Rasulullah Saw.adalah perintah agama. Dalam hadits dari Anas ra. Nabi Saw bersabda: “Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (Muttafaq Alaih)
Dengan mengacu pada hadits shahih di atas, dapat kita ambil poin-poin berikut ini: Kewajiban cinta kepada Rasul Saw. , kenapa harus cinta Rasul Saw. ?, apa tanda-tanda cinta Rasul Saw. ?,
Pertama, Kewajiban Cinta Kepada Rasul Saw.
Berdasarkan hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi Saw.dengan kualitas cinta tertinggi, yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan ibu bapak kita. Bahkan cinta Rasul Saw.itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.
Dalam Hadits Riwayat Imam Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab berkata kepada Nabi Saw.: “Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.”
Nabi Saw.bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’.
Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’
Kemudian Nabi Saw.bersabda, Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.” (HR Bukhari)
Karena itu, barangsiapa yang kecintaannya kepada Nabi Saw.belum sampai pada tingkat ini, maka belumlah sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Anas ra, dari Nabi Saw., bersabda:
“Ada tiga hal, barang siapa melaksanakan ketiga-tiganya maka ia akan merasakan kelezatan iman: Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada yang lain, orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah dan orang yang benci untuk kembali kekafiran sebagaimana benci untuk masuk ke dalam neraka.”
Kedua, Mengapa kita harus mencintai Rasul Saw. ?
Cinta Rasul Saw inilah yang  dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari Neraka, serta dengan mengikuti beliau Saw. , kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.
Mencintai Nabi Saw saja tidaklah lengkap kecuali kita juga mencintai Keluarga Nabi Saw.
Dalam Hadits shahih diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra, berkata,Rasulullah Saw, bersabda:“Cintailah Allah atas anugerah nikmat yang diberikan kepadamu, dan cintailah aku karena cintaku kepada Allah, dan cintailah keluargaku karena kecintaanku kepada mereka.” (Hr. At-Tirmidzy dan al-Hakim).
Adapun cinta kita kepada selain Allah Swt dan Rasul-Nya, termasuk mencintai keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri. Dan barangsiapa lebih mengagungkan cinta dan hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini akan bisa mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul Saw..
Ketiga, Tanda-tanda Cinta Rasul Saw.
Cinta Nabi Saw. haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.
Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul Saw.adalah:
1) Mentaati beliau Saw.dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Pecinta sejati Rasul Saw.manakala mendengar Nabi Saw.memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak akan mendahulukan ketaatannya kepada isteri, anak, orang tua atau adat kaumnya. Sebab kecintaannya kepada Nabi Saw dan keluarganya.lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada yang dicintainya.
Dari Anas bin Malik RA, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun SAW menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya SAW” Maka Rasulullah SAW pun bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” (HR. Imam Bukhari)
Adapun orang yang dengan mudah-nya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi Saw.serta menerjang berbagai kemungkaran maka pada dasarnya dia jauh lebih mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu, padahal Nabi Saw.sangat mengagungkan perkara shalat, hingga ia diwasiatkan pada detik-detik akhir sakaratul mautnya. Dan orang jenis ini, akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan-larangan agama yang lainnya. Na’udzubillah min dzalik.
2) Menolong dan mengagungkan beliau Saw., melaui dakwah, mensosialisasikan hadits-hadist Nabi, Riwayat hidup Nabi Saw, menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang dihadapinya.
3) Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui beliau Saw. , rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun dari sunnah-nya .
4) Mengikuti Nabi Saw dalam segala halnya. Dalam hal shalat,zakat, puasa, haji-nya,  wudhu, makan, tidur dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau, dalam kasih sayangnya kepada keluarga, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran dan zuhudnya dsb.
5) Memperbanyak mengingat dan  bershalawat atas beliau Saw dan keluarganya
Sebagai dzat Yang Maha Segalanya, tentu saja Allah Swt tidak shalat, tidak berpuasa dan tidak berhaji, namun Allah Swt bershalawat kepada Nabi.
Allah Swt bersabda, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [QS Al-Ahzaab: 56]
Dalam hal shalawat Nabi Saw.bersabda:
“Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
Adapun bentuk shalawat atas Nabi Saw.adalah sebagaimana yang beliau ajarkan. Salah seorang sahabat bertanya tentang bentuk shalawat tersebut, beliau menjawab: “Ucapkanlah:” Ya Allah, bershalawatlah atas Muhammad dan keluarga Muhammad.” (HR. Al-Bukhari No. 6118, Muslim No. 858).
6) Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi Saw sebagaimana yang disebutkan hadits dan membenci orang yang dibenci beliau. Lebih dari itu, hendaknya kita mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi Saw, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya.
So sahabatku, mencintai Rasulullah Saw. adalah dengan menaati beliau, sabar dalam menghidupkan sunnah-sunnahnya, mengikuti beliau dalam segala hal, mencintai beliau dan orang-orang yang dicintainya dan bershalawat kepadanya.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah untuk junjungan kita,  manusia Agung, Nabi Muhammad Saw berserta Keluarganya, sahabatnya dan ummat-Nya hingga akhir zaman.
Allahumma shali ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.
Semoga Allah Swt senantiasa menganugerahkan kepada kita dan anak keturunan kita, keimanan dan rasa cinta yang tinggi kepada Rasulullah Saw dan keluarganya. sehingga segala apa yang telah beliau tetapkan dapat kita terima dan laksanakan tanpa ada keberatan sedikitpun.
(Kompasiana).

Sabtu, 20 September 2014

TAK ADA JALAN PINTAS

     Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras yang berjuang untuk tumbuh. Jangan terlalu berharap pada kemujuran. Apakah kalian tahu apa itu kemujuran? Apakah kalian dapat mendatangkan kemujuran sesuai keinginan kalian? Padahal kita tahu, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya.
       Sadarilah bahwa segala sesuatu berjalan secara alami dan semestinya. Layaknya proses mendaki tangga, kalian melangkahkan kaki kalian melalui anak tangga satu per satu. Tak perlu repot-repot membuang waktu kalian untuk mencari jalan pintas, karena memang tak ada jalan pintas. Sesungguhnya kemudahan jalan pintas itu takkan pernah memberikan kepuasan sejati. Untuk apa kalian berhasil jika kalian tak merasa puas?
    Hargailah setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Janganlah melangkah dengan ketergesaan, karena ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja.
      Amatilah jalan lurus kalian. Tak peduli bergelombang maupun berbatu, selama kalian yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus. Ketahuilah, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun kalian menjadi diri kalian sendiri.