InspirasI

Jumat, 10 Juni 2016

Keutamaan Doa


Do’a mempunyai keutamaan yang sangat banyak di antaranya adalah:

1. Do’a merupakan sunnah para Nabi dan Rasul, juga merupakan kebiasaan para wali Allah dan orang-orang shaleh. Orang yang meninggalkan do’a berarti dia telah menempuh jalannya orang-orang yang sengsara dan sombong.

Allah SWT, berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (QS. Al-Anbiya’:90)

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; (QS: Al-Israa’ :57)

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Al-Mukmin (Ghafir):60)
2. Berdo’a diperintahkan dan dianjurkan oleh Allah, juga Rasulullah SAW,
Firman Allah SWT:

وَسْئَلُوا اللهَ مِن فَضْلِهِ
“dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya”. (QS: An-Nisaa’: 32)
dan firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Rabbmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. (QS:Al-Mukmin (Ghafir): 60)

فَادْعُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS. Al-Mukmin:14)

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ . وَلاَتُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS.Al-Mukmin :55-56).
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

(من لم يسئل الله يغضب عليه )) أخرجه أحمد والبخاري في "الأدب المفرد" والترمذي وابن ماجة والبزار والحاكم.
(Barang siapa yang tidak pernah berdo’a kepada Allah, maka Allah SWT akan marah kepadanya)). (HR Ahmad dan Al-Bukhari dalam kitab “al-adab al-mufrad”)
3. Ahli surga memberikan alasan terlepasnya mereka dari azab neraka adalah karena do’a, mereka berkata:

فَمَنَّ اللهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ . إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ
Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya (berdoa’a kepada-Nya). Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (QS.At-Thuur:28).
4. Allah SWT, memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad SAW, untuk selalu bersama orang-orang yang suka berdo’a. dan Allah melarang beliau untuk memalingkan pandangannya kepada yang lain.
Firman Allah SWT:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلاَتَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا .
Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi:28).
5. Do’a merupakan ibadah yang paling mulia dan afdhal, sebagaimana Firman Allah SWT:


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Rabbmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS: Al-Mukmin:60)
Dan sabda Rasulullah SAW, 
"Do’a itu adalah ibadah."
6. Allah SWT melarang siapapun untuk menyakiti orang-orang yang suka berdo’a sebagai penghargaan dan penghormatan kepada mereka, Allah SWT berfirman:


Apa Doa yang Paling Utama

Do’a yang paling utama untuk dipergunakan adalah do’a-do’a yang pernah dipanjatkan oleh Rasulullah SAW, dalam riwayat yang shahih sanadnya. Karena terdapat beberapa kesalahan dalam do’a-do’a yang menjadi pilihan sebagian orang (bukan ma’tsur/bersumber dari petunjuk Rasulullah) dikarenakan adanya perbedaan pengetahuan, disamping perbedaan paham dalam akidah dan keyakinan.
Imam Tabary menjelaskan alasannya mengarang “kitab addu’aa”: “Buku ini saya susun dengan mengumpulkan do’a-do’a Rasulullah SAW, dan yang memotifasi saya adalah tatkala saya lihat banyak masyarakat yang berdo’a dengan do’a-do’a yang menyerupai sajak-sajak, serta do’a-do’a yang dikarang-karang oleh sebagian pengarang, do’a-do’a yang tidak diriwayatkan dari Rasulullah SAW, ataupun dari para shahabat, tabi’in, padahal Rasulullah SAW sangat melarang hal tersebut. Karena itulah aku susun buku ini dengan sanad yang ma’tsur dari Rasulullah SAW…”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dalam kitab “Al-qaidah al-jalilah” (1/336-majmu’ fatawa), mengatakan: “semestinya setiap makhluk berdo’a kepada Allah SWT dengan do’a-do’a yang masyru’ah (yang disyari’atkan) yang terdapat dalam Al-qur’an dan AS-Sunnah, karena do’a-do’a tersebut tidak diragukan lagi fadhilah dan keutamaannya, ia merupakan jalan yang lurus, jalan yang diberkahi Allah SWT untuk para Nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada dan orang-orang shaleh, mereka itulah sebaik-baik pendamping.

Hal-hal yang Dimakruhkan Dalam Berdoa

1. Bersuara dengan keras.

Kami berangkat bersama Rasulullah SAW maka tatkala kami telah dekat ke Madinah bertakbirlah Nabi dan bertakbirlah manusia serta mereka mengeraskan suara mereka. Maka berkata Rasulullah SAW, "Hai manusia, sesungguhnya Dzat yang kamu seru itu, tidak tuli dan tidak jauh, sesungguhnya Tuhan yang kamu seru itu ada diantara kamu dan diantara kendaraan kamu." (Muttafaq ‘Alaihi).

2. Berisyarat dengan dengan dua jari, tetapi yang benar adalah menggunakan isyarat dengan telunjuk tangan kanan saja.
3. Melampaui batas dalam berdo’a, seperti meminta sesuatu yang haram atau perbuatan dosa kepada Allah, akan tetapi banyak berdo’a tidak termasuk I’tida’ (melampaui batas)
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبّ`1;ُ الْمُعْتَدِينَ
Sesungguhnya Allah itu tidak suka kepada orang yang melampaui batas.(QS Al-A’raf, 7:55)
4. Meminta sesuatu hal yang mustahil, seperti meminta kehidupan yang kekal di dunia.
5. Berdo’a dengan maksiat.
6. Menggunakan do’a-do’a yang bid’ah, yang dibuat-buat dan munkar.
7. Terlalu memaksakan diri mencari dan mengarang kalimat-kalimat yang indah sehingga menghilangkan rasa khusu’ yang sebenarnya sangat disyaratkan dalam berdo’a.
8. Membuat pengecualian dalam do’a tersebut, seperti mengatakan “ Ya Allah ampunilah aku, bila Engkau mau”, karena hal tersebut menunjukkan bahwa yang meminta tidak butuh kepada pemberian Allah SWT.
9. Tawassul dengan hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW (bid’ah), seperti bertawassul dengan kehormatan Nabi SAW, atau dengan pribadi Rasulullah SAW, atau dengan yang lainnya baik nabi, malaikat, atau orang-orang shaleh.
Adab Berdoa dan Hal-hal yang Disunnahkan dalam Berdoa

1. Bersuci.
2. Menghadap kiblat.
Ia (nabi) mendatangi tempat wuquf di ‘Arafah, dan ia menghadap kiblat dan terus menerus berdoa sehingga tenggelam matahari.(H.R. Muslim)
3. Berdo’a pada waktu-waktu atau keadaan-keadaan yang mulia, seperti waktu sujud, puasa, sedang bepergian (safar), menghadapi musuh, pertengahan malam, antara azan dan iqamah, hari jum’at dll.
Rasulullah bersabda:
"Pada tiap malam, Rabb kita turun ke langit dunia ketika bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman: Barangsiapa yang berdoa kepadaKu, pasti akan Kukabulkan, dan siapa yang memohon kepadaKu, pasti akan Kuberi, dan siapa yang mohon ampun kepadaKu pasti akan Kuampuni."(H.R. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan yang lainnya)

"Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya ialah ketika sujud. Maka perbanyaklah doa (di waktu itu)."(H.R. Muslim)

"Tidak seorang pun menaruh keningnya bersujud kepada Allah dan ia berkata: Tuhanku, ampunilah dosaku – tiga kali --, kecuali pada saat ia mengangkat kepalanya telah diampuni dosanya." (H.R. Ibnu Abi Syaibah)
4. mengangkat kedua belah tangan dengan kedua telapak tangan terbuka.
5. memperlihatkan kepapaan dan kemiskinan.
6. merendahkan diri dan khusu’.
7. memilih kata-kata yang paling baik, baik lafaz, makna serta untaian baitnya.
8. berusaha sedapat mungkin untuk mengucapkannya dengan benar dan menghindari kesalahan ucapan.
9. memulai do’a dengan memuji dan mengagungkan Allah serta shalawat kepada Rasulullah SAW.
Nabi SAW lewat di depan seorang yang bernama Abu ‘Iyasy Zaid bin Shamit az-Zuraqiy yang sedang shalat. Ia berdoa : "Ya Allah, aku mohon kepadaMu karena sesungguhnya bagiMu puja dan puji, tiada Tuhan selainMu, wahai Yang Maha Pemberi, yang menjadi harapan, Yang Mencipta langit dan bumi, Yang Maha Luhur dan Maha Mulia". Kemudian Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya engkau telah memohon kepada Allah dengan mempergunakan nama-namaNya Yang Agung, yang bilamana dimohonkan dengan nama-namaNya itu akan dikabulkan dan jika dimintai dengannya juga akan diberi." (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Nasa’i, dan lain-lainnya)
10. mendahulukan taubat dan istigfar, pengakuan terhadap dosa-dosa dan kemaksiatan disertai dengan keikhlasan dalam berdo’a.
11. Tawassul dengan Al-Asma’ Al-Husna (nama nama Allah yang baik) dan sifat-sifat Allah yang agung dan mulia, sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya:
"Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu" (QS: Al-A’raaf:180)
12. tawassul dengan amal sholeh yang pernah dilakukan.
13. memperlihatkan permohonan yang sangat dan mengiba dengan menyebut kebesaran Allah SWT sesering mungkin, yang sangat diharapkan dengan melakukan hal tersebut, terkabulnya do’a yang dipanjatkan.
14. mengucapkan “amin” setelah selesai berdo’a sebagai penutup.
15. selalu mengharap dan meminta. Tidak boleh putus asa dalam mengharap terkabulnya permintaan tersebut. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, "Aku akan mengikuti persangkaan mengikuti persangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepadaKu." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, "Aku mengikuti sangkaan hambaKu kepadaKu. Dan Aku selalu menyertainya sepanjang ia ingat kepadaKu." (H.R. Bukhari dan Muslim)


Kamis, 09 Juni 2016


SURAT UNTUK ADIKKU

Untuk adiku
Fulan  yang  sholeh,

 Alhamdulillah masih diberi nikmat sehat dan umur oleh Allah untuk beribdah di bulan Ramadhan ini, Adikku Ramadhan adalah bulan dimana limpahan Rahmat, ampunan dan berkah ada di dalamnya, rugi jika kita menyiayiakanya karena belum tentu kita akan menjalankanya di tahun depan, manfaatkanlah bulan penuh berkah ini untuk mencari sebanyak – banyak bekal rahmat dan ampunanya untuk  perjalanan kita 11 bulan mendatang dan mungkin jika dipangil sewaktu-waktu oleh Allah.

Adikku, Ramadhan ini merupakan saat yang tepat untuk kita merenung apa saja yang sudah kita lakukan sampai hari ini. Adikku kita semua tahu bahwa semua yang hidup pada akhirnya pasti  mati, kian hari bukan menjahui kematian tetapi kian hari kian mendekat, entah siap yang terlebih duluh akan menemani mas Arif. Alhamdulillah, sekarang kita sudah sama-sama dewasa, sudah saatnya kita menengerti dan paham akan semua yang kita perbuat, sudah bukan lagi, apa yang kita lakukan menjadi tanggung jawab orang tua tetapi kita harus ingat dosa apa yang kita lakukan masih menjadi tanggung jawab orang tua kita

Adiku mari sejenak kita merenungi orang yang paling berjasa pada kehidupan kita sehingga kita bisa sampai seperti sekarang ini, mereka adalah Ibu Bapak kita,
Kita tahu kematian semakin dekat pada siapapun
Kalau kita masih ingat dulu kita berada di rahim Ibu 9 bulan 10 hari.
Mual, muntah, berdiri susah berbaring sulit itu yang dirasakan Ibu saat itu.
Bapak kita  membanting tulan memeras keringat
Orang tua kita menyangka akan lahir anak yang sholeh.
Sehingga mereka ridho merasakan pahit getir

Marilah kita kenang Ibu Bapak kita yang makin tua
Ketika  kita akan terlahir ke dunia ini
Ibu sakit tiada terperikan
Bagai sudut antara hidup dan mati
Lahir kita ke dunia ini dengan bersimpah arah
Ibu berjuang mati-matian melawan rasa sakit yang tidak tertahan kan lagi
Lahirlah kita dengan bersimpah darah dan tangis bahagia kedua orang tua kita
Bapak memeras keringat lebih keras lagi, supaya kita bisa menjadi bayi yang sehat.
Sepanjang malam ibu terbangun mendengar tangisan kita karena
Terkadang ibu tidak tidur ketika kita demam menjadikan ia gelisa tiada terperikan.

Kian lama kita bertambah besar semakin besar pula beban yang mereka tanggung
Biaya pendidikan semakin besar belum lagi kebutuhan kita sendiri
Terkadang Ibu berhutang kesana- kemari
Makan dikurangi
Agar kita punya sepatu yang wajar
Agar kita bisa sekolah

Tetapi apa yang telah kita lakukan
Kita sering sinis melihat mereka
Terkadang kata – kata kita bagai pisau menyayat hati mereka
Kita menggangap mereka sebagai orang kampung yang kampungan
Tak jarang kita merasa malu berjalan berduaan dengan mereka

Padahal malaikat maut kian dekat dengan Ibu Bapak Kita
Kerut diwajahnya semakin banyak
Siapa tahu sembentar lagi akan berpisah dengan kita
Andai lusa malaikat maut menjemputnya
Mungkin akan bebas penderitaannya dari kezholiman kita
Yang hampir tiap hari kita menyakitinya

Andai malaikat maut menjemputnya
Kenanglah ……
Ketika Ibu Bapak kita berbaring menjadi mayat
Tidak ada lagi suaranya, tidak ada lagi sapaanya, tidak ada lagi kemarahanya
Mungkin Ibu kita tidak terluka lagi hatinya
Kenanglah …….
Ketika Ibu Bapak kita dibungkus kain kafan, ketika ditutup wajahnya
Itulah saat terakhir kita melihat wajahnya
Kenanglah …….
Saat diusung dari rumah kita kepekuburan
Pelan dimasukan kedalam liang lahat
Ketika tanah sedang menimbunya
Maka saat itulah kita terakhir melihat jasatnya
Hanya batu nisan yang bisa kita tatap
Kenanglah ………
Saat kita pulang kerumah
Kamarnya sudah kosong
Daster yang tergantung tidak ada lagi yang memakai
Tidak ada lagi canda, tidak ada lagi kemarahanya
Tidak ada lagi yang menunggui kita makan

Wahai adikku kita pasti menyesal pernah jadi durhaka
Andai Ibu Bapak kita telah tiada kita pasti menyesal
Mengapa selagi masih ada kita sia-siakan dengan menzholiminya

Muda – mudahan orang tua kita mempunyai bekal pulang ke aherat nanti
Yang kasihan adalah orang tua yang tidak mempunyai bekal
Ketika tersiksa dalam kubur melolong-lolong
Pasti menanti doa anaknya
Padahal Allah menjanjikan doa anak yang sholeh bisa melapangkan kubur
Jika seorang anak sehabis sujut bermunajat
Jika seorang anak yang sholeh berdoa bagaikan cahaya berbalut sutra lapang kuburnya

Alangkah malangnya orang tua yang mempunyai anak durhaka
Yang di dunia selalu mengiris hati, meremukan perasaan,  mencorng aib
Dikubur orang tua teraniaya
Setiap kedurhakaan anak menjadi beban kubur Ibu Bapaknya
Ketahuilah adiku anak durhaka siksanya didahulukan di dunia ini

Wahai adiku kita tidak tahu kapan akan berpisah dengan Ibu Bapak Kita
Wahai adiku andai kata tubuh kita diiris tidak akan bisa mengobati pengorbanan Ibu Bapak kita
Andai kata seluruh harta kita bayarkan tidak terbalas pengorbananya
Mereka mempertaruhkan nyawanya untuk kita
Bahkan ada orang tua yang dekat dengan pintu neraka karena berjuang menghidupi anaknya

Berjanjilah pada diri sendiri setelah Ramadhan ini
Tidak ada lagi kedurhakaan tidak ada lahgi prilaku durhaka
Tidak ada lagi anak durhaka
Jadikanlah wajah yang kita hadapkan wajah yang cerah
Senyum yang tulus selagi bisa menatap wajahnya
Sapalah dengan sapaan yang hormat dan lembut, selagi masih bisa disapa
Bersikaplah penuh hormat dan kasih saying, tidak akan pernah rugi memuliakan orang tua
Jangan sakiti hatinya sudah terlalu lama kita menyakiti, sudah terlalu banyak luka-lukanya
Jangan mencoreng aib diwajahnya,
Jangan permalukan orang tua kita
Jangan jerumuskan Ibu Bapak kita dalam kehinaan
Sekali berbuat nista seperti melempar kotoran kemuka Ibu Bapak.


Jumat, 03 Juni 2016

BULAN ISTIMEWA


            Ketika ibadah Ramadhan tahun lalu kita akhiri, salah satu harapan yang merasuk kedalam jiwa kita adalah keinginan untuk bisa menjumpai dan menikmati bulan Ramadhan pada tahun berikutnya. Insya Allah, harapan itu akan terpenuhi, karenanya kita berharap semoga Allah Swt benar-benar menyampaikan usia kita pada Ramadhan tahun ini.

            Kalau kita begitu berharap bisa menikmati kembali ibadah Ramadhan pada tahun ini, karena Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Karena itu, kehadiran Ramadhan tahun ini yang tidak akan kita sia-siakan begitu saja. Sebagai orang yang gembira atas kedatangan kembali Ramadhan dan kita bisa memasukinya, maka target yang ingin kita capai adalah mendapatkan nilai-nilai keistimewaan dari bulan Ramadhan itu sendiri sebagai titik awal untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt. Lalu, selain keharusan berpuasa sebulan penuh, apa saja keistimewaan bulan Ramadhan itu?.

1.    BULAN AL-QUR’AN

Ramadhan seringkali disebut dengan Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an), karena awal diturunkannya Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan. Dengan berpedoman pada Al-Qur’an, niscaya perjalanan hidup manusia menjadi terarah dan memberi kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kemakmuran serta keadilan. Banyak dari kita, kaum muslimin yang sudah jauh dari Al-Qur'an, mulai dari jauh dalam bentuk tidak bisa membacanya, bisa membaca tapi tidak rajin membacanya, rajin membaca tapi tidak memahaminya, memahami tapi tidak mengamalkannya atau sudah mengamalkannya tapi baru untuk dirinya sendiri, belum merangsang atau mengajak orang lain untuk mengamalkannya.

Oleh karena itu, sebagai bulan Al-Qur’an, Ramadhan mengingatkan dan mengetuk hati kita untuk memperkokoh komitmen kepadanya. Bila Ramadhan yang segera kita masuki telah berakhir dan komitmen kita kepada Al-Qur’an semakin kuat, hal itu merupakan indikasi dari keberhasilan ibadah Ramadhan kita, sehingga dalam menjalani kehidupan ini, kita selalu berpedoman kepada Al-Qur’an, karena Al-Qur’an memang berfungsi sebagai petunjuk dan dalam menilai sesuatu, kitapun menggunakan Al-Qur’an sebagai tolok ukur, karena Al-Qur’an memang berfungsi untuk membedakan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (salah), Allah berfirman yang artinya: Bulan Ramadhan adalah bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). (QS 2:185).

2.    PINTU SYURGA DIBUKA, NERAKA DITUTUP.

Setiap muslim pasti ingin sekali bisa masuk syurga dengan segala kenikmatannya dan terhindar dari neraka dengan segala kesengsaraan dan penderitaannya. Ramadhan adalah bulan yang amat memberi peluang kepada kita untuk meraih syurga dan menghindar dari neraka. Namun ini sifatnya tidak otomatis bersamaan dengan datangnya Ramadhan, tapi itu bisa kita raih manakala Ramadhan ini kita penuhi dengan segala bentuk kebajikan, sekecil apapun kebajikan yang kita lakukan itu.

Ramadhan yang merangsang kita untuk melaksanakan segala aktivitas kebajikan akan menghantarkan kita ke pintu syurga yang seluas-luasnya, bahkan bagi orang yang berpuasa, Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyatakan ada pintu khusus untuk masuk syurga itu yang dinamakan dengan Ar Royyan. Sementara dengan ibadah Ramadhan yang sebaik-baiknya, seorang muslim semakin kecil peluangnya akan kemungkinan masuk ke dalam neraka. Itulah salah satu maksud pintu syurga dibuka lebar dan pintu neraka ditutup rapat dengan sebab puasa Ramadhan sebagaimana hadits Nabi Saw:


Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan (HR. Bukhari dan Muslim).

3.    MEMBELENGGU SYAITAN

Hadits di atas juga menyebutkan dibelenggunya syaitan-syaitan ketika Ramadhan tiba, hal ini karena dengan telaksananya ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya, syaitan merasa amat sangat sulit mencapai keberhasilan dalam menggoda manusia, sehingga selama Ramadhan itu, syaitan betul-betul merasa terbelenggu atau sangat terbatasi keleluasaannya dalam menggoda manusia.

Dengan demikian, sebagai muslim, kita harus aktif dalam membelenggu syaitan melakukan aktivitasnya menyesatkan manusia, dan bulan Ramadhan adalah kesempatan yang amat baik untuk melatih kekuatan rohani kita untuk bisa membatasi ruang gerak syaitan dalam diri kita masing-masing.

4.    AMPUNAN DOSA.

Ibadah Ramadhan yang dikerjakan dengan sebaik-baiknya juga akan memberi keuntungan atau keistimewaan bagi kita dengan diampuninya dosa-dosa kita dimasa lalu oleh Allah Swt. Ini merupakan peluang yang sangat besar yang diberikan Allah dan kita tidak boleh mensia-siakan kesempatan ini. Kenapa demikian?. Karena sudah begitu banyak dosa yang kita lakukan, dosa anak kepada orang tua, dosa orang tua kepada anak, dosa isteri kepada suami, dosa suami kepada isteri, dosa pemimpin pada rakyat, dosa rakyat pada pemimpin, dosa murid kepada guru, dosa guru kepada murid dan begitulah seterusnya. Rasulullah Saw bersabda:


        Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridha      Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari).

      Kalau peluang yang begitu besar ini kita abaikan, peluang mana lagi yang ingin kita ambil. Memang tahun depan, Ramadhan akan kembali tiba kalau kiamat belum terjadi, tapi yang jadi masalah adalah usia kita yang belum tentu sampai, sebagaimana banyak orang diantara keluarga, teman, jamaah dan masyarakat kita yang sudah tidak bisa berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan tahun ini karena mereka telah meninggal dunia..

5.    MEMPERKUAT BENTENG PERTAHANAN.

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah Saw menyatakan: ash shiyamu junnatun (puasa itu adalah benteng). Dalam suatu peperangan, diperlukan benteng untuk memantapkan pertahanan. Dalam kehidupan seorang muslim, terjadi kecamuk perang dalam jiwanya antara yang haq dan yang bathil. Untuk bisa memenangkan peperangan itu, seorang muslim harus memiliki benteng pertahanan yang kuat sehingga bisa menghalau segala godaan syaitan.

Puasa sebagai upaya memperkuat benteng pertahanan rohani merupakan sesuatu yang amat penting. Tersebarluasnya kemaksiatan dan kemunkaran, sulitnya memperkokoh persatuan Islam dan umat Islam pada hakikatnya adalah karena lemahnya kekuatan rohani yang membuat syaitan menjadi begitu berkuasa atas diri kita. Karena itu, dalam kondisi kehidupan masyarakat kita yang masih amat jauh dari nilai-nilai Islam, peran puasa Ramadhan menjadi sesuatu yang amat mendasar dalam membentengi jiwa umat dalam menghadapi godaan-godaan syaitan yang tiada henti.

6.    PAHALA BESAR

Keistimewaan penting dari bulan Ramadhan adalah diberikannya pahala yang begitu besar kepada siapa saja yang melakukan kebajikan atau amal yang shaleh. Hal ini akan membuat kita semakin terlatih atau terbiasa untuk melakukan amal-amal yang shaleh. Sebagai sebuah contoh, untuk orang yang memberi makan atau minum kepada orang yang berbuka puasa, maka Allah Swt akan memberikan pahala puasa orang yang diberi makan atau minum itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut.

Ibadah Ramadhan memang memberikan janji perolehan pahala yang besar. Dengan pahala yang besar itu kita terangsang untuk beramal shaleh yang sebanyak-banyaknya, lalu kita menjadi terbiasa melakukannya.

        Akhirnya menjadi jelas bagi kita bahwa, begitu banyak keistimewaan bulan Ramadhan   yang membuat kita tidak boleh mengabaikannya begitu saja. Karena itu, kehadiran     Ramadhan pada tahun ini akan kita optimalkan sebagai momentum untuk meningkatkan   proses tarbiyyah (pendidikan) bagi diri, keluarga dan masyarakat kita kearah terwujudnya pribadi, keluarga dan masyarakat yang selalu berada dalam ketaqwaan kepada Allah Swt.