InspirasI

Minggu, 14 Januari 2018

DARI JI'RANAH KITA BELAJAR MENGELOLA KECEWA

Oleh. Ustadz. Dwi Budiyanto

Di Ji’ranah hari itu ada kecewa. Ada kebijakan Rasulullah yang tak dipahami. Ada keputusan yang disalahmengerti. Sangat manusiawi kelihatannya. Orang-orang Anshar merasa disisihkan selepas perang Hunain yang menggemparkan.
Mereka telah berjuang total. Mereka berperang di sisi Rasul dengan penuh kecintaan. Tapi, harta rampasan perang lebih banyak dibagikan pada orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sementara pada mereka, seakan hanya memperoleh sisa.
Padahal, semua orang tahu, sebagaimana Rasul pun juga mengetahuinya: merekalah yang berjuang dengan sepenuh iman ketika orang-orang Quraisy dan kabilah Arab itu lari tunggang langgang pada serangan pertama pasukan Malik bin Auf An-Nashry.Maka, hari itu di Ji’ranah, ada yang kasak-kusuk, ada yang memercikan api, “Demi Allah, Rasulullah shallallahu aalaihi wasallam telah bertemu kaumnya sendiri!” Kalimat itu jelas sarat kekecewaan.
Hari itu juga utusan Anshar, Sa’d bin Ubadah menemui Sang Rasul. Hatinya gusar. Ia ingin segera sampaikan apa yang dirasakan sahabat Anshar pada beliau. Ada yang mengganjal di hati, tapi (mungkin) mereka anggap tak layak untuk disampaikan. Sa’d bin Ubadahlah yang memberanikan diri.
“Ya Rasulullah, dalam diri kaum Anshar ada perasaan mengganjal terhadap engkau, perkara pembagian harta rampasan perang. Engkau membagikannya pada kaummu sendiri dan membagikan bagian yang teramat besar pada kabilah Arab, sementara orang-orang Anshar tidak mendapat bagian apapun.”
Kita menangkap protes itu disampaikan dengan lugas tapi tetap santun. Ada kecewa, tapi iman mereka mencegahnya dari sikap yang merendahkan. Ada ganjal di hati, tapi bukan amarah tak terkendali.
“Lalu, kamu sendiri bagaimana Sa’d?” tanya Sang Rasul.
“Wahai Rasulullah, aku tidak punya pilihan lain, selain harus bersama kaumku.” Jawab Sa’d menjelaskan perasaannya. Jujur. Apa adanya. Ia tidak menutup-nutupi bahwa dirinya juga kecewa. Rasulullah lalu meminta mengumpulkan semua orang Anshar. Pada mereka Rasul menenangkan.
“Bukankah dulu aku datang dan kudapati kalian dalam kesesatan, lalu Allah berikan kalian petunjuk? Bukankah dulu saat aku datang kalian saling bertikai, lalu Allah menyatukan hati kalian? Bukankah dulu saat aku datang, kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah mengayakan kalian?”
Orang-orang Anshar itu membenarkan. Mereka memang sedang dilanda kecewa, tapi lihatlah betapa mereka memilih diam, dan tidak balik menyerang dengan kata-kata dan argumentasi yang dapat diungkapkan.
Disebabkan iman sematalah mereka bersikap hormat pada Sang Rasul, meski mereka teramat kecewa. Saya bayangkan hari itu di Ji’ranah. Para sahabat yang mengelilingi Rasulullah.
“Demi Allah, jika kalian mau kalian bisa mengatakan, ‘Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkan. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan lemah, lalu kami menolongmu. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan terusir, lalu kami memberikan tempat. Engkau dulu datang kepada kami dalam keadaan miskin, lalu kami yang menampungmu.”
Saya bayangkan Rasul yang mulia menghela nafas sejenak. Dapat kita rasakan kata-kata itu menggetarkan dada orang-orang yang diliputi iman itu. Saya bayangkan tempat itu mendadak senyap, kecuali suara Rasulullah yang teduh. Beberapa sahabat mulai menitikkan airmata.
“Apakah ada hasrat di hati kalian pada dunia?” tanya Rasulullah tanpa susulan jawab dari para sahabat. Semua terdiam.
Pertanyaan itu mengetuk sisi terdalam dari jiwa para sahabat. Jiwa yang sejak semula disemai iman.
“Padahal, dengan dunia itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam.” Rasul mulai menjelaskan alasan kebijakannya.
Saya bayangkan para sahabat Anshar yang mengangguk paham dalam diam. “Sedangkan terkait keimanan kalian, aku sudah teramat percaya.” Kata-kata itu begitu dalam dan jujur.
Tetes airmata tak kuasa lagi ditahan. Terlebih ketika Rasulullah melanjutkan, Apakah kalian tidak berkenan di hati jika orang-orang lain pergi membawa onta dan domba, sementara kalian pulang bersama Rasul Allah?
Sebuah perbandingan yang kontras. Kesadaran itu hadir tidak tiba-tiba. Tangis para sahabat meledak. Jika bukan karena iman, kekuatan apa yang mampu menghadirkan kesadaran setelah kekecewaan? Sungguh, iman merekalah yang menyebabkan semua itu terjadi.
Kisah di atas teramat panjang. Dari dalamnya kita belajar bagaimana dalam komunitas kebaikan sekalipun, kekecewaan itu nyaris tak dapat dielakkan.
Setiap kita mungkin pernah kecewa. Sebabnya bisa bermacam-macam. Tapi sebagiannya karena kita tak persepaham dengan orang lain; apakah kelakuannya, kebijakannya, pernyataannya, perhatiannya, atau apapun. Kita pun bisa kecewa karena merasa tidak mendapat dukungan yang memadai. Kecewa itu bisa muncul dimana-mana, bahkan dalam dakwah sekalipun.
Di dalam bilik-bilik rumah bisa lahir kekecewaan. Suami kecewa pada istri atau sebaliknya, istri kecewa dengan suami. Di ruang-ruang kerja, kekecewaan dapat juga timbul. Di manapun ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kekecewaan bisa hadir tiba-tiba.
Dalam dakwah, kecewa bisa juga tumbuh bagai ilalang. Sebabnya bisa bermacam-macam. Gagasan yang ‘dianggap’ tidak diperhatikan, selera-selera yang tak sama, kebijakan qiyadah yang tak memenuhi keinginan kita, perilaku dan tindakan ikhwah, dan yang lain.
Hanya kekuatan imanlah yang mampu menjaga kita dari penyikapan yang salah saat kecewa.
Sebagian di antaranya menyikapi dengan marah, kalap, bahkan bisa juga dengan ‘mutung.’Sebagian yang lain menyikapi dengan cara-cara yang lebih arif dan bijak. Jika kecewa datang menggerogoti, periksalah kembali orientasi kita.
Periksa pula niat-niat kita dalam beramal dan beraktivitas. Inilah saat paling tepat untuk menakar motif dan orientasi kita.
Semoga pengiring atas rasa kecewa adalah sikap lapang dada, semangat beramal yang makin menggelora, keikhlasan yang mempesona, dan penghormatan pada sesama.
Jangan biarkan, kekecewaan ditanggapi dengan aktivitas yang tidak memuliakan kita. Jangan pula sampai kekecewaan menyeret kita pada devisit iman dan juga devisit emosi.
Sedari awal, kita memilih jalan dakwah,  bukan karena ingin selalu disenangkan. Bukan pula hasrat untuk terus dimenangkan. Kadang tak semua hasrat hati mesti terturuti. Begitulah tabiat perjalanan ini; kesediaan untuk berjalan bersama, mesti diikuti lapang dada atas segala kecewa yang muncul menggoda.
Kita memilih jalan dakwah semata karena berharap ridha Allah. Seluruh rasa kecewa itu hanyalah liliput atas kerinduan kita yang besar atas keridlaan Allah.
Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dan menguatkan keikhlasan kita dalam beramal.

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Seorang murid mengadu kepada gurunya:
"Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita"
Sang Guru menjawab dengan tenang :
"Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak merasakannya"
"Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah : Sedikitnya taufiq (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan"
Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari "Kekerasan hatinya dan kematian hatinya"
Contoh :
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapan-Nya ?
Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu' dalam shalat ?
Sadarkah engkau, bahwa  beberapa hari-harimu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah :
"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah"
Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya.

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu ?.
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah) ?
Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya ?
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu ?

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini ?
Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi ?
Semua bentuk pembiaran ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya.
Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dan meninggalkan kewajiban.
Karena itu wahai sahabat2ku, Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan jiwa kita
.
Syaikh Abdullah Al-'Aidan
Wallahu A'lam

Sabtu, 13 Januari 2018

ILMU LAHIR DAN ILMU BATIN

Rasulullah SAW bersabda, “Ilmu itu ada dua macam. Pertama, ilmu lisan, sebagai hujjah Allah dan kepada hambanya. Kedua, ilmu batin yang bersumber di lubuk hati, ilmu inilah yang berguna untuk mencapai tujuan pokok dalam ibadah.” (HR. Ad-Darimi)
           Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Pada mulanya, manusia membutuhkan ilmu syariat agar dengan badannya sesuai dengan kadar pengetahuannya terhadap alam makrifat  ia mendapatkan derajat atau pahala. Pada tahap selanjutnya, manusia akan butuh ilmu batin agar dengan ruhnya sesuai dengan kadar pengetahuannya mencapai ilmu Ma’rifat Dzat.
Adapun untuk mencapai tujuan ini, manusia harus meninggalkan segala sesuatu yang menyalahi syariat dan tarekat. Ini akan dapat dicapai dengan melatih diri meninggalkan hawa nafsu dan berbagai kegiatan ruhaniyah meskipun sangat berat dengan tujuan mendapat ridha Allah tanpai riya’ (ingin dipuji orang lain) dan sum’ah (mencari kemasyhuran).
         Allah SWT berfirman, “Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi  [18]: 110)

Jumat, 12 Januari 2018

Perlawanan KH. AHmad Dahlan

Pertengahan abad ke 19 hingga hengkangnya Belanda dari bumi Indonesia adalah saat dimana trilogi kolonialisme klasik, Gold, Gospel and Glory menampilkan perseketuannya secafa nyata. Tulisan, pidato dan tindakan yang merendahkan Islam muncul secara beruntun. DI Sulawesi Utara pada tahun 1938, Bala Keselamatan, salah satu denominasi Kristen yang hobi memakai pakaian militer, masuk ke masjid dengan memakai sepatu kemudian memainkan lagu-lagu Kristen.
Di Solo, di Masjid Mangkunegaran, para misionaris membagi-bagikan buku Kristen yang ditulis dengan arab pegon pada umat Islam yang baru pulang dari Sholat Jum'at. Di Tasikmalaya, seekor anjing dibawa masuk ke musholla. Dan yang paling fenomenal adalah artikel dari seorang Pater Jesuit, Ten Berge, yang menyebut Nabi Muhammad sebagai orang Arab yang bodoh dan bernafsu besar dan Al Qur'an adala interpretasi atas Bibel yang sangat buruk. Artikel yang memicu kemarahan umat Islam secara massive yang merupakan penyebab munculnya Tentara Kanjeng Nabi Muhammad di kalangan muslim Jawa.
Pada periode seperti itulah, KH. Ahmad Dahlan menampilkan perlawanan dengan meode yang dipilihnya, yaitu perdebataan ilmiah.Solichin Salam dalam buku KH. Ahmad Dahlan, reformer Islam Indonesia menulis satu sub bab khusus soal ini.
KH. Ahmad Dahlan dalam kegiatannya untuk membela kebenaran agama Islam, seringkali mengadakan tukar pikiran serta pertemuan dengan para pemuka agama Kristen. Pada suatu ketika, K.H. Ahmad Dahlan pernah mengadakan pertemuan dengan Pastoor Van Lith. Sayang sekali pertemuan itu hanya sekali saja diadakan, meskipun pertemuan itu baru bersifat pertemuan pendahululan. Tidak berapa lama sesudah berlangsung pertemuan itu, Pastoor van Lith meninggal dunia.
Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan juga pernah mengadakan pertemuan dengan Pastoor Van Driesche, bertempat di rumah sdr. M. Joyosumarto (merrtua M.M. Djojodiguno). Pertemuan itu hanya diadakan sekali saja, karena ternyara Pastoor van Driessce sikapnya kasar, sehingga tidak dapat diajak bertukar fikiran mengenai soal-soal agama maupun Ketuhanan.
Bukan rahasia lagi, bahwa dalam usahanya untuk mencari kebenaran, K.H. Ahmad Dahlan tidak mengenal lelah ataupun putus asa. Pada suatu hari beliau mengadakan pertemuan dengan Domine Bakker. Pertemuan ini diadakan di Djetis dan berlangsung hingga beberapa kali. Karen Domine Bakker dalam pembicaraannya sangat berbelit-belit serta tidak mau mengakui kekalahannya, maka akhirnya KH. Ahmad Dahlan mengajukan tantangan kepadanya :
“Kalau ternyata kemudian agama Protestan yang benar, saya bersedia masuk agama Protestan. Akan tetapi sebaliknya, apabila agama Islam yang benar, Domine-pun harus mau masuk agama Islam.”
Domine rupanya tidak berani menerima tantangan KH. Ahmad Dahlan, karena itu tidak antara lama iapun memohon diri untuk pulang ke negeri Belanda. Dalam pertemuan yang diadakan beberapa kali dengan Domine Bakker ini, terdapat 2 orang dari Klaten, pengikut Domine Bakker yang akhirnya masuk Islam, setelah mendengar pembicaraan-pembicaraan yang diadakan selama pertemuan tersebut.
Selain itu, dalam kegiatan missi dan zending Kristen pernah mendapatkan kunjungan seorang  Pastoor bernama Dr. Zwemmer, yang mempunyai daerah kerja yang luas di Asia. Dalam kunjungannya ke Indonesia, dia mengadakan khotbah di beberapa gereja, antara lain di Banjarmasin, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta. Isi khotbahnya umumnya banyak sekali yang menghina agama Islam.
Setelah mendengar kedatangan Pastoor tersebut dan penghinaannya terhadap Islam, maka diadakanlah sambutan oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan mengadakan openbaar (rapat umum) bertempat di Ngampilan (sekarang tempat tersebut dipakai untuk M.P.P. Ngampilan). Di dalam rapat umum ini, Pastoor Dr. Zwemmer diundang juga untuk mendengarkan serta menerangkan sekitar agamanya, disamping itu diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari hadirin. Akan tetapi pastoor tersebut ternyata tidak datang. Ki Hajar Dewantara mengulas peristiwa ini dalam surat kabar Darmo Kondo dengan menyatakan bahwa Dr. Zwemmer tidak mampu menghadapi KH. Ahmad Dahlan.
Yang sempat menerima tantangan menyelidiki kebenaran agama adalah Dr. Laberton. Namun setelah melewati diskusi panjang, akhirnya Dr. Laberton kalah, dan ketika KH. Ahmad Dahlan menanyakan apakah Dr. Laberton bersedia masuk Islam, ia menjawab diplomatis "Maaf, saya tetap berpegang kepada agama yang dipeluk nenek moyang saya, karena itu adalah kewajiban saya.
Sayang kisah-kisah menarik ini tidak muncul di film Ahmad Dahlan. Padahal di awal berdirinya, sebagai gerakan amal, Muhammadiyah adalah organisasi yang bertarung head to head di lapangan dengan Misi Katolik dan Zending. Sehingga apa yang dipunyai Zending dan Misi, Muhammadiyah juga punya, yakni sekolahan, rumah sakit dan panti asuhan yatim piatu.

Rabu, 10 Januari 2018

HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

Cerita dari Ulama Abu Abdurrahman Abdullah Bin Al-Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi
Ulama terkenal di Makkah.
Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yg turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yg datang tahun ini?”
tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yg ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa..?”
ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yg jauh, dengan kesulitan yg besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
"Namun ada seseorang, yg meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“ Itu Kehendak Allah"
“Siapa orang tersebut?”
“ Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq Damaskus"
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.
Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yg namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, di tepi kota”
Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.
Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yg berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
*Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka*
*Ya Allah, aku datang karena panggilanMu*
*Tiada sekutu bagiMu*
*Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu.  Tiada sekutu bagiMu*
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah.
Ya Allah aku rindu melihat kabah.
Ijinkan aku datang…..
Ijinkan aku datang ya Allah..
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam.
Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini.
Mintalah sedikit untukku”
"Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu.
Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.
Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.
Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “  *daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan*  ” katanya.
Dalam hati saya:
Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?
Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga.
Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak
tak bisa menahan air mata.
Kisah ini memberi hikmah, bahwa membantu orang disekitar kita bisa jadi sama nilainya dengan pergi Haji di mata Allah


Selasa, 09 Januari 2018


SAYAP-SAYAP  PATAH


Kala jari jemariku menulis kalimat kalimat ini karena mataku yg tak sanggup lg menampung perihnya airmata..
Kawan...
Semua yang disyariatkan Allah adalah benar yg harus kita lakukan..
Dan Syariat itu tidak pernah salah dan keliru yg menjadikannya hancur adalah pribadi manusia.....
Sebut saja namaku Abdullah.
Aku diberi Allah pendamping yang supel,
pintar, rajin dan sangat sholehah, sebut saja namanya Aisyah, hidupku sangat bahagia apalagi Aisyah telah memberiku dua orang putra dan satu orang putri..
Rumah tanggaku sangat bahagia.
Suatu hari hatiku di uji oleh Allah Aku jatuh cinta pada seseorang gadis yang sangat cantik dan lebih mudah, sebut saja namanya Fatimah yang lebih membuatku semakin kuat ingin menikah lagi dgn Fatimah karena ia sangat sholehah dan bersedia menjadi istri kedua ku.
Akhirnya aku putuskan untuk menikah dengan Fatimah, aku sudah memberi tahu istriku namun Aisyah tidak menjawab apa apa..
Yg kulihat hanya airmata yang tiba-tiba jatuh saat ku sampaikan itu, aku tak peduli.. Toh nanti juga dia akan menerima..
Terjadilah pernikahan antara aku dan Fatimah.. Awal awal nya memang agak susah tapi lama ke lamaan akhirnya baik-baik saja hanya saja Aisyah sedikit lebih pendiam dari setelah aku menikah lagi.
Waktu terus bergulir tidak terasa aku sedah membinah rumah tangga dengan Fatimah sudah satu tahun dan dikaruniai seorang putri yang sekarang berusia 6 bulan, semantara Aisyah tidak banyak yang berubah darinya,..
Hari-hari terus bergulir dan aku mulai bosan dan jenuh ,
sehingga terjadilah badai dalam keluargaku, aku ingin mencereikan salah satu istriku, akhirnya terjadi pertengkaran dalam keluargaku dan jatuhlah talak ku pada Aisyah, kulihat ada airmata di wajahnya namun dia terus diam dalam kebisuan air mata..
Ku biarkan Ghozy, Ghassan dan Balqis anak anak ku ikut dengan Aisyah karena aku tahu  mereka pasti akan memilih ibunya..
Tahun berganti tahun..
Hidupku dengan Fatimah pun mulai goyang, sebenarnya aku sangat bahagia dengannya namun sifat manja dan tidak memahami perasaanku membuatku tdk nyaman, dan tak jarang rumah tangga kami mulai diterpa pertengkaran.
Suatu ketika kami pernah bertengkar hebat dan membuat aku enggan pulang ke rumah, akupun mampir disebuah mesjid, kularutkan diri dlm sholat..
Dalam masjid itupun aku rindu dengan Aisyah dan anak-anak ku.. tetapi dimana mereka? 
7 tahun yg silam saat aku mentalak Aisyah,, Ghozy putra pertamaku berusia 5 tahun,  dan Ghassan berusia 4 tahun sementara Balqis berusia1tahun,
hingga kini aku tak pernah mananyakan kabar mereka apalagi mengirimkan mereka biaya hidup.. Sungguh semakin membuatku menderita memikirkannya .
Saat itu hujan turun dengan lebatnya..
Aku pelan pelan dan diam diam mulai mencari Aisyah dan anak-anak ku, namun hasilnya tak berhasil, aku mulai menanyakan kiri kanan pada keluarganya atau pada teman teman Aisyah tp tetap nihil ..
Mereka hilang bagai ditelan bumi..
Dimana mereka ya Allah.. Doaku dalam hati. Aku semakin ketakutan manakala tak mendapat info apa apa tentang mereka.. Pikiran ku semakin tak menentu.. Di sisi lain Fatimah hidup denganku  dengan sejuta tuntutan.
Hari-hari pun terus berlalu..
Bahkan hampir 6 bulan aku mencari mereka.. Hingga pada suatu hari sehabis mengikuti kajian..
Tiba-tiba seorang ustadz mendekatiku "Abdullah... Apakah kau sudah bertemu Aisyah dan anak-anak mu......?"
ku geleng kan kepala dgn air mata.. Kerinduan..
Ustadz itu berkata " insyaallah mereka baik-baik saja" perkataan sang ustadz membuatku menatap wajahnya lekat lekat..
Wajah sang ustadz seolah tersirat ia mengetahui keberadaan Aisyah dan anak-anak ku... Ternyata benarlah dugaan ku sang ustadz memberi tahu setelah ku desak dimana Aisyah dan anak-anak ku..
Aisyah menghilang dalam hidupku dan menetap di sebuah kota yg sangat jauh dari tempat yg pernah menjadi kota tempat kami saat membina rumah tangga.. Jauh dan sangat jauh...jarak tempuhnya 4hari perjalanan....
Di sebuah pondok pesantren dipelosok desa tepat dilereng gunung...
Saat itu aku berangkat bersama sang ustadz sebagai petunjuk dan mediator yg mempertemukan aku dgn dia Aisyah.. Perjalanan yg panjang membuat aku dan sang Ustadz ingin beristirahat sejenak..
Mampirlah kami disalah satu masjid di tempat itu.. Dada ku bergemuruh, perasaanku tak menentu, aku jadi ketakutan manakala anak anak ku tdk mau melihatku apalagi menerima ku.. terus ku yakinkan hatiku..
Tiba-tiba lamunanku hilang oleh merdunya suara adzan, airmata ku menetes menghayati kalimat sang mu'adzin.. Saat itu waktu magrib.. Aku dan Ustad memutuskan bermalam dimasjid tersebut.
Allahu Akbar... Suara imam menggema aku tenggelam dalam sholat oleh tartil nya bacaan imam.. Menunjukkan sangat fasih dlm melafalkan Al Quran.. Setelah selesai sholat sang imam memberikan tausyiah singkat tentang hargailah orang yg selalu bersama Kita.. Lisan sang imam benar-benar mengiris hatiku...
Keesokan hari dikala subuh menjelang aku berdoa ya ALLAH pertemukan aku dgn Aisyah dan anak-anak ku... Adzan subuhpun berkumandang.. Sebelum sholat sang ustadz berkata insyaallah pagi ini kau akan bertemu dengan putra pertamamu...
Semakin bergemuruh hatiku ditambah lagi suara sang imam membuat para jama'ah memecahkan tangisan.. Sungguh desa dan tempat yang dipilih Aisyah benar-benar sangat damai dari kebisingan dunia.
Benar lah pagi itu aku bertemu dengan putra sulungku Ghozy yg tiada lain adalah imam yang dari tadi malam membuat jemaah menangis karena tartilnya membaca Quran... Hatiku bergemuruh..
Dalam usia yang sangat mudah ia telah memiliki ilmu setara gurunya.. Hatiku kembali bergemuruh mana kala melihat nya tumbuh menjadi penghafal Quran... Menetes air mata ku kepeluk di erat sekali kutanyakn kabar ibu dan adik adik nya..... Dengan gaya bahasa yang sangat sopan Ghozy menceritakan perjalanan ibunya menanggung ketiga anaknya tanpa ada sosok ayah.. Ghozy telah di dewasakan oleh ilmunya walau ia baru berumur 14 tahun... Kisah perjalanan istrinya di dengar dgn airmata tak terbendung...
Hati Abdullah semakin merinding kala Ghozy mengatakan bahwa adiknya Ghassan yg usia beda setahun dg Ghozy telah berangkat ke madinah krn prestasinya..
Disisi lain Balqis yg berusia sembilan tahun telah selesai mengikuti program kelas tahfidz.. Ghozy dgn tegas mengatakan kami semua bs seperti yg abi dengar karena sosok ibu yang telah abi tinggalkan..
Umi membesarkan dan mendidik kami untuk lebih mencintai Allah..
Umi memberi kami makan dr hasil kerjanya sebagai orang yang mencuci piring di dapur pondok ini.. Abi..
Umi tak pernah mengajari kami untuk membencimu tetapi  ketahuilah kau adalah ayah kami,tapi  kau tak layak jd suami dari  ibuku.. Kalimat itu terdengar bagai petir..
Dunia terasa gelap.. Wajah ku menunduk.. Aku tak tahu harus berbuat apa.
Untuk mu yang sedang membaca tulisan ku.. Jgn kau berbuat seperti ku..
Seseorang yg ada disamping mu sekarang adalah orang terbaik yg di pilih Allah untukmu maka jangan sia sia kan...
Aku tak bisa melanjutkan tulisanku ini  karena airmata ku menghalangi pandangan ku....
Untukmu istri ku Aisyah..
Walau aku tak layak untukmu... Kini kau bukti kan bahwa sikapmu adalah cerminan dari namamu..
Hal terindah dalam hidupku kau telah menjadikan anak anak ku sebagai jundi jundi sejati....
Untukmu istri ku Aisyah.. Dikala Allah mempertanyakan diriku tentang anak anak ku.. Apa yg menjadi hujjah ku...?
Untukmu istriku Aisyah... Aku telah membuang berlianku..sungguh anak anak kita tumbuh menjadi anak anak mutthaqiin.. Satu hal yang ku mohon pd Allah.. Aku diberi kesempatan untuk berkumpul dan menembus dosa dan kesalahan dgn kalian.

Senin, 08 Januari 2018

         Doa Orangtua
                                 Ya Robbana

Kami menyadari sepenuhnya bahwa pernikahan kami adalah perjanjian yang besar (mitsaqon gholidzon) dan juga peristiwa besar peradaban, karena di dalam pernikahan itu ada generasi peradaban yang diamanahkan kepada kami untuk diantarkan kepada peran peran peradaban terbaiknya sehingga menjadi cemerlanglah peradaban Islam di muka bumi.
Ya Robbana,
Kami menyadari bahwa pernikahan kami bukanlah kebetulan, sungguh kami dipertemukan dalam rancangan, maksud dan rencana besarMu ya Allah, yaitu menjadi HambaMu dan KhalifahMu di muka bumi
Ya Rahman Ya Rahiem,
Kami menyadari bahwa setiap maksud penciptaan untuk menjadi HambaMu dan KhalifahMu tentu menghendaki peran peradaban yang harus ditemukan dan diselesaikan untuk mencapai maksud penciptaanMu itu
Ya Rahman Ya Rahiem,
Berikan kami kemampuan menemukan takdir peran peradaban atau misi keluarga kami agar kami menjalani pernikahan kami dengan sempurna indah dan bahagia
Ya Rahman Ya Rahiem,
Jadikanlah keluarga kami seperti keluarga Nabi Ibrahiem AS
Jadikankah para Ayah atau para Suami kami sebagaimana Ayah Ibrahiem AS, seorang arsitek peradaban, perancang peran peradaban keluarga dan keturunan yang hebat, penutur Misi Visi Keluarga dalam narasi peradaban yang indah, yang Engkau abadikan dalam doa doanya di dalam Kitabullah
Jadikanlah para Bunda atau para Istri kami sebagaimana Bunda Hajar, seorang istri yang mendukung penuh Misi Suaminya atau Peran Peradaban Keluarga yang dirancang oleh Suaminya lalu menurunkannya menjadi kurikulum pendidikan terbaik bagi anak anaknya
Maka kami saksikan betapa besar cinta Ayah Ibrahiem AS kepada bunda Hajar.
Maka Ya Allah satukanlah saya dan pasangan saya sebagaimana Engkau satukan Ayah Ibrahiem AS dan Bunda Hajar
Ya Rahman ya Rahiem,
Jadikanlah keluarga kami seperti keluarga Nabi Muhammad SAW
Jadikanlah para Ayah atau para suami kami sebagaimana Ayah Muhammad SAW, seorang arsitek peradaban, yang memiliki misi menebar rahmat bagi semesta serta memabawa kabar gembira (solusi atas potensi) dan juga peringatan (solusi atas masalah).
Jadikanlah para Bunda atau para istri kami sebagaimana Bunda Khadijah RA, seorang wanita mulia pendukung hebat misi suaminya sepenuhnya lalu menurunkannya menjadi kurikulum pendidikan bagi anak anaknya dan kaumnya.
Maka kami saksikan betapa besar cinta Muhammad SAW kpd Khadijah RA
Maka ya Allah satukanlah antara saya dan pasangan saya sebagaimana Engkau menyatukan Muhammad SAW dan Khadijah RA
______
Ya Allah, Ya Robbana, Engkaulah sesungguhnya Murobby atau pendidik sejati bagi anak anak kami.
Engkaulah alKhaliq, Sang Pencipta, Yang Menciptakan Fitrah anak anak kami dan juga fitrah keayahbundaan kami
Engkau jualah yang menetapkan Jalan bagi fitrah itu untuk tumbuh, berkembang dan bekerja sesuai tahapannya.
Engkau jualah yang menetapkan Syariah atau Kitabullah yang memandu fitrah itu agar tumbuh indah, sempurna dan berbahagia
Karena itu Ya Allah, berikan kami kesyukuran, kekuatan dan petunjuk untuk mengikuti jalan fitrah itu dan berikan kami keshabaran untuk memandunya dengan Kitabullah agar mencapai peran peradaban terbaiknya dengan semulia mulia adab.
Ya Robbana,
kami sadar sepenuhnya ya Allah, bahwa kami bukan orangtua yang sempurna
Karenanya Ya Allah...
Jangan Engkau hukum dan siksa kami karena kesalahan,  kelalaian, kelebaian kami dalam merawat amanah fitrah anak anak kami
Ya Robbana,
Kami sadar sepenuhnya ya Allah, kepada Engkaulah kami menyembah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan
Karenanya Ya Allah
Jangan biarkan kami mengandalkan diri kami sendiri dalam mendidik anak anak kami,
Kuatkanlah kami agar hanya mengandalkanMu semata sebelum yang lainnya
Karena tanpa pertolonganMu ya Allah, tanpa RahmatMu ya Allah, tanpa intervensiMu ya Allah
maka niscaya anak anak kami menjadi durhaka semuanya.
Ya Robbana,
Sesungguhnya Engkau Aktif dan tidak pasif,
Engkau tidak mengantuk dan tidak tidur,
Karenanya ya Allah,
curahkanlah senantiasa  hikmah yang banyak kepada kami dalam mendidik anak anak Kami dan mengantarkan mereka pada masa depan yang cemerlang sesuai fitrahMu yang telah Engkau instal dalam diri anak anak kami
Ya Robbana,
Berikan kami kemampuan untuk menyambut panggilanMu menjadi orangtua sejati yang kembali kepada fitrah keayahbundaan kami dalam mendidik anak anak kami
Berikankanlah kami kekuatan untuk berTaqwa kepadaMu ya Allah, yaitu fokus pada peran peradaban keluarga kami sebagai bagian utama perintahMu dan berhati hati pada laranganMu agar fokus dan tercapailah peran peradaban kami itu
Ya Allah kami meyakini bahwa sesungguhnya Engkau tidak akan memanggil mereka yang mampu, tetapi memampukan mereka yang terpanggil
Ya Allah semoga dengan peran peradaban keluarga kami itu kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh kasih sayang serta Muthmainnah yaitu penuh ketenangan dan kedamaian sebagai puncak kebahagiaan kami
InsyaAllah kami ridha kepada panggilanMu yaa Allah dan juga semoga Engkau meridhai pernikahan kami dan peran peradaban atau misi keluarga yang kami jalani,
Dan kemudian ketika peran peradaban keluarga kami itu tertunaikan, semoga Engkau memasukkan kami ke dalam golongan HambaMu dan memasukkan kami ke dalam SyurgaMu
Allahumma Aamiiin